Timur Tengah Memanas, Ekonom BRIN Ingatkan Efek Rambatan ke Perdagangan Indonesia
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Zamroni Salim menjelaskan serangan Iran ke Israel memunculkan risiko perdagangan global. Ini karena serangan Iran ke Israel akan memicu respons dari sekutu Israel, yaitu Amerika Serikat (AS).
"Dan Amerika Serikat juga sudah siap dengan pasukannya di Timur Tengah," kata Zamroni, kepada investortrust.id, di Jakarta, Rabu (2/10/2024).
Zamroni mengatakan jika eskalasi perang membesar, kondisi ini dapat berdampak ke arus perdagangan global. Kondisi ini, kata dia, juga berdampak pada kestabilan makroekonomi global.
"Dan ini tentu saja merugikan banyak pihak. Tidak hanya antara yang negara berkonflik, tentu saja Israel dan Iran akan terkena dampaknya," ujar dia.
Baca Juga
Bagi Indonesia, kata Zamroni, serangan Iran ke Israel akan mengganggu arus perdagangan Indonesia ke wilayah Eropa dan Afrika.
"Tidak hanya ekspor tapi juga impor, itu akan terganggu. Jadi secara tidak langsung serangan Iran ke Israel kemarin akan memberikan dampak. Bisa terlihat nanti sekitar 1 bulan atau 2 bulan ke depan," ujar dia.
Zamroni menyebut salah satu komoditas yang akan terdampak secara langsung dari konflik ini yaitu minyak. "Komoditas minyak itu adalah dari komoditas yang paling terkena dampaknya secara langsung," ujar dia.
Baca Juga
Selain perdagangan, Zamroni juga melihat potensi konflik di Timur Tengah dapat merembet ke nilai tukar. Meski demikian, tekanan terhadap Mata Uang Garuda dapat dihambat jika AS tak ikut serta menambah keruhnya perang.
"Dampaknya itu mungkin bisa diminimalisir ketika eskalasi konflik perang itu tidak berlanjut. Dalam arti Amerika tidak ikut menambah keruhnya peperangan. Jadi dalam hal ini nilai tukar Rupiah masih bisa di kisaran Rp 15.000-an. Rp 15.200-an hingga Rp 15.300-an," ujar dia.

