Analis Ekonomi Apindo: Psikologi Pasar Dibutuhkan untuk Jaga Stabilitas Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Analis ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani meminta pemerintah perlu mencermati eskalasi konflik Iran-Israel. Ini karena dalam waktu yang bersamaan, kondisi rupiah terus mengalami penurunan.
“Menjaga psikologi pasar seperti ini sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas ekonomi,” kata Ajib, kepada Investortrust.id, Jumat (19/4/2024).
Ajib mengatakan konflik geopolitik dan ketidakstabilan ekonomi global berdampak pada dua hal yang harus dimitigasi. Pertama, kenaikan Harga Pokok Penjualan (HPP) sehingga mendongkrak inflasi. Kedua, kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang terimbas kondisi geopolitik.
Kenaikan HPP, kata Ajib, mengakibatkan kenaikan harga komoditas impor termasuk harga bahan baku, minyak, dan ongkos logistik. Sehingga, kondisi ini bisa memicu inflasi.
Baca Juga
Utang Luar Negeri Indonesia Naik 1,4% ke USD 407,3 Miliar, Rupiah Merosot Lagi
Sementara itu, imbas ekonomi AS membuat bank sentral Paman Sam menahan tingkat suku bunganya. Kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat ini menjadi patron dominan BI (Bank Indonesia) dalam membuat kebijakan moneter nasional.
“Ketika tingkat suku bunga The Fed tinggi, akan terjadi potensi crowding out atau capital outflow sehingga semakin memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” kata dia.
Untuk itu, Ajib menyebut pemerintah perlu memperhatikan empat indikator makro Indonesia, yaitu pertumbuhan ekonomi, inflasi, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, dan keseimbangan primer keuangan negara.
Ajib mengatakan Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup agresif meski didera pandemi Covid-19 dengan catatan di atas 5%. Tahun 2024 ini ditargetkan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,2%.
Baca Juga
Rupiah Merosot dalam Pembukaan Perdagangan Jelang Akhir Pekan
Mengenai inflasi, Ajib menilai selisih ekspor-impor yang positif diprediksi masih dalam rentang daya tahan sampai akhir tahun 2024 yang tak melebihi 3,5%. Sementara PDB pada 2023 Indonesia sebesar Rp 20.892,4 triliun atau nomor 16 besar dunia. Dengan kata lain PDB per kapita Indonesia mencapai Rp 75 juta.
“Dengan PDB yang masih 16 (besar dunia) sedangkan jumlah penduduk nomor 4 (besar dunia) maka potensi ekonominya masih sangat besar,” kata dia.
Keempat, Ajib menilai kondisi neraca keuangan negara masih dalam keseimbangan primer yang positif. Meski demikian, Ajib meminta pemerintah membuat proyeksi nilai tukar rupiah dalam kisaran Rp 15.000 sehingga pembayaran utang luar negeri tak mengalami kenaikan.

