Banggar Beri Catatan Penting terhadap Target Indikator Pembangunan Pemerintahan Prabowo-Gibran
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR, Said Abdullah memberikan catatan penting terhadap indikator kesejahteraan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
“Banggar dan pemerintah sepakat menetapkan sejumlah target indikator kesejahteraan sebagai ukuran kinerja pemerintah. Ini sebagai ukuran kinerja bagi sukses tidaknya pelaksanaan pembangunan manusia ke depan,” kata Said dalam Sidang Paripurna DPR RI ke-7 Masa Persidangan I tahun Sidang 2024-2025, di Gedung DPR, Jakarta, baru-baru ini.
Baca Juga
Banggar DPR: Keputusan soal Tarif PPN 12% Ada di Tangan Prabowo Subianto
Sasaran dan indikator pembangunan yang disepakati Banggar DPR dan pemerintah meliputi:
* Tingkat kemiskinan: 7-8%.
* Kemiskinan ekstrem: 0%.
* Gini ratio: 0,379-0,382.
* Tingkat pengangguran terbuka: 4,5%-5%.
* Indeks modal manusia: 0,56.
* Nilai tukar petani (NTP): 115-120.
* Nilai tukar nelayan (NTT): 105-108.
Atas sejumlah indikator tersebut, Said Abdullah meminta pemerintah mencermati beberapa hal penting. Salah satunya, mewaspadai gelombang pengangguran akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi sepanjang Januari 2024 sebanyak 32.064 pekerja.
PHK tersebut hampir separuhnya di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT). “Dan tren pengangguran juga meningkat pada kelompok pekejra paruh waktu,” ujar dia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, kata Said, menunjukkan, tingkat kemiskinan berada pada posisi 9,03%. Terdapat kesenjangan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi antara desa sebesar 11,97% dan kota 7,09%.
“Pemerintah perlu prioritas penanggulangan kemiskinan di perdesaan lebih intensif, ini bisa mengerem laju urbanisasi, sekaligus mendorong program kemandirian pangan nasional,” tegas dia.
Baca Juga
Catatan lainnya, menurut Said Abdullah, yaitu ditetapkannya indeks modal manusia (IMM) sebagai penyesuaian terhadap standar internasional dalam mengukur pembangunan sumber daya manusia (SDM) dalam skala 0-1.
“Saat ini, IMM negara maju skalanya 0,7-0,8. Kita juga perlu mengejar ketertinggalan dengan negara peers, seperti Malaysia yang berada di 0,61, Thailand 0,61, dan Vietnam 0,69,” tutur dia.
Said juga menyoroti NTP pada Agustus 2024 yang mencapai 119,85, meningkat dari sebelumnya 119,61. “Pemerintah perlu memberikan perhatian penurunan NTP di sejumlah daerah yang di bawah 100, seperti Bali yang hanya 98,3, Maluku 99,9, dan Papua Barat Daya 98,75,” papar dia.

