Surplus Perdagangan Tergerus, Ini Penyebabnya!
JAKARTA, investortrust.id – Neraca perdagangan Indonesia menorehkan surplus selama 41 bulan beruntun. Namun, surplus neraca dagang terus tergerus. Masih besarnya defisit perdagangan migas adalah penyebabnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan membukukan surplus US$ 3,42 miliar pada September 2023, naik 9,61% secara bulanan (month to month/mtm), namun secara tahunan (year on year/yoy) anjlok 31%.
Baca Juga
“Pada Agustus 2023, surplus neraca perdagangan mencapai US$ 3,12 miliar. Sedangkan pada September 2022, surplus mencapai US$ 4,96 miliar,” kata Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti di Jakarta, Senin (16/10/2023).
Berdasarkan data BPS, surplus perdagangan September 2023 sejatinya cukup besar andai Indonesia tidak banyak mengimpor migas, apalagi jika sama sekali tidak mengimpor migas.
Bulan lalu, menurut data BPS, surplus perdagangan nonmigas mencapai US$ 5,34 miliar. Namun karena neraca dagang migas defisit US$ 1,92 miliar, surplus neraca dagang keseluruhan hanya mencapai US$ 3,42 miliar.
Bahkan pada September tahun lalu, surplus perdagangan nonmigas menembus US$ 7,12 miliar. Karena neraca dagang migas defisit US$ 2,17 miliar, surplus pada September 2022 hanya mencapai US$ 4,96 miliar.
Data BPS juga menunjukkan defsit neraca migas pada September 2023 naik dari bulan sebelumnya dari US$ 1,34 miliar menjadi US$ 1,92 miliar, tetapi defisit turun dibanding September tahun silam yang mencapai US$ 2,17 miliar.
Baca Juga
Secara keseluruhan, kata Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, kinerja neraca perdagangan Indonesia masih lumayan.
“Neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 41 bulan berturut-turut atau sejak Mei 2020,” ujar dia.
Amalia mengungkapkan, surplus neraca perdagangan bulan lalu ditopang bahan bakar mineral (HS 27), lemak dan minyak hewan nabati (HS 15), serta besi baja (HS 72).
Secara kumulatif, total surplus neraca perdagangan Indonesia hingga September 2023 mencapai US$ 27,75 miliar.
“Angka itu lebih rendah sekitar US$ 12,01 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” tutur Amalia.(CR-2)

