Surplus Neraca Perdagangan Maret Melonjak 336,7% ke US$ 4,47 Miliar, Ini Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia mengalami surplus perdagangan barang pada Maret 2024. Surplus Indonesia mencapai US$ 4,47 miliar, melonjak 336,7% atau US$ 3,64 miliar secara bulanan (month to month/mtm) dibanding Februari lalu US$ 0,83 miliar.
“Nilai ekspor Indonesia pada Maret 2024 mencapai US$ 22,43 miliar, sedangkan impor sebanyak US$ 17,96 miliar, sehingga surplus US$ 4,47 miliar. Dengan ini, neraca perdagangan barang Indonesia mencatatkan surplus 47 bulan berturut-turut, sejak Mei 2020,” kata Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, saat menyampaikan rilis bulanan data neraca perdagangan Indonesia hingga Maret 2024 di Kantor BPS di Jakarta, Senin (22/4/2024).
Baca Juga
Menkeu: Pemerintah dan BI Sudah Siapkan Strategi Jaga Rupiah
Amalia mengatakan lonjakan surplus tersebut ditopang oleh kinerja ekspor ekspor Indonesia yang mencapai US$ 22,43 miliar, atau naik 16,4% secara bulanan (mtm). Namun, lanjut dia, secara tahunan (year on year/yoy) mengalami penurunan 4,19%.
"Penyumbang utama kenaikan ekspor secara bulanan adalah kenaikan ekspor industri pengolahan, logam mulia, dan minyak kelapa sawit. Adapun penyumbang utama penurunan ekspor tahunan utamanya dari komoditas pertambangan dan lainnya," ucap Amalia.
Surplus Nonmigas Digerogoti Defisit Migas
Amalia mengatakan lebih lanjut, surplus perdagangan pada Maret 2024 ditopang oleh surplus pada komoditas nonmigas yaitu sebesar US$ 6,51 miliar. Surplus nonmigas ini tercatat lebih besar dibandingkan bulan lalu, juga dibandingkan dengan bulan Maret tahun sebelumnya. Di sisi lain, neraca perdagangan migas mengalami defisit sebesar US$ 2,04 miliar, yang disumbang dari hasil minyak maupun minyak mentah.
Ia merinci, ekspor nonmigas Maret 2024 mencapai US$ 21,15 miliar, naik 17,12% dibanding Februari 2024, dan turun 4,21% jika dibanding ekspor nonmigas Maret 2023. Sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar pada Maret 2024 semuanya mengalami peningkatan. Komoditas dengan peningkatan terbesar dibanding Februari 2024 adalah logam mulia dan perhiasan/permata sebesar US$ 925,8 juta (206,58%).
“Sedangkan beberapa komoditas penyumbang surplus yang utama yaitu berasal dari bahan bakar mineral (HS 27). Kemudian, lemak dan minyak hewan nabati (HS 15), serta besi dan baja (HS 72),” kata dia.
Berdasarkan sektor, data BPS memaparkan, peningkatan nilai ekspor nonmigas secara bulanan utamanya disumbang oleh peningkatan ekspor sektor industri pengolahan. Nilai ekspor sektor industri pengolahan naik 21,45% pada Maret 2024 (mtm).
Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas Maret 2024 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$ 4,75 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 2,19 miliar, dan India US$ 1,78 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 41,22%. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa (27 negara) masing-masing sebesar US$ 3,78 miliar dan US$ 1,42 miliar.
Impor Total Turun, Migas Melonjak
Sementara itu, Amalia mengatakan lebih lanjut, nilai impor mencapai US$ 17,96 miliar. Ini mengalami penurunan baik secara bulanan maupun tahunan masing-masing sebesar 2,6% dan 12,76%.
“Penyumbang utama penurunan nilai impor secara bulanan dan tahunan adalah penurunan nilai impor barang modal (berdasarkan golongan penggunaan barang),” ujar dia.
Merujuk rincian data BPS, impor nonmigas penyumbang terbesar terhadap impor Maret 2024, yakni senilai US$ 14,63 miliar, atau turun 5,34% dibandingkan Februari 2024 atau turun 16,72% dibandingkan Maret 2023. Namun, impor migas Maret 2024 tercatat senilai US$ 3,33 miliar, melonjak 11,64% dibandingkan Februari 2024 atau naik 10,34% dibandingkan Maret 2023.
Dari sepuluh golongan barang utama nonmigas Maret 2024, impor mesin/peralatan mekanis dan bagiannya mengalami penurunan terbesar senilai US$ 473,0 juta (17,18%) dibandingkan Februari 2024. Sementara peningkatan impor terbesar adalah serealia senilai US$ 182,2 juta (25,97%).
Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–Maret 2024 adalah Tiongkok US$ 16,44 miliar (35,83%); Jepang US$ 3,30 miliar (7,19%); dan Thailand US$ 2,70 miliar (5,88%). Impor nonmigas dari ASEAN tercatat US$ 8,30 miliar (18,09%) dan Uni Eropa US$ 2,79 miliar (6,08%)
Baca Juga
Kuartal I-2024 Surplus US$ 7,31 Miliar
Direktur Statistik Distribusi BPS Efliza ME menjelaskan lebih, neraca perdagangan Indonesia secara year to date juga surplus. Hal ini karena secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Maret 2024 mencapai US$ 62,20 miliar. Sedangkan impor Januari–Maret 2024 lebih kecil yakni sebesar US$ 54,90 miliar, sehingga terjadi surplus pada kuartal I tahun ini US$ 7,31 miliar.
"Ekspor Januari–Maret 2024 turun 7,25% dibanding periode yang sama tahun 2023. Ekspor nonmigas mencapai US$ 58,30 miliar atau turun 7,53%. Ekspor migas senilai US$ 3,90 miliar," katanya.
Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–Maret 2024 turun 4,92% dibanding periode yang sama tahun 2023, demikian juga ekspor hasil pertambangan dan lainnya turun 17,31%, sedangkan ekspor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan naik 8,05%.
"Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Maret 2024 berasal dari Provinsi Jawa Barat dengan nilai US$ 9,15 miliar (14,71%), Ini diikuti Provinsi Jawa Timur US$ 6,33 miliar (10,18$) dan Provinsi Kalimantan Timur US$ 6,29 miliar (10,11%)," tutur Efliza.
Sementara itu, berdasarkan data BPS, impor Januari–Maret 2024 yang sebesar US$ 54,90 miliar terutama disumbang impor nonmigas yakni US$ 45,89 miliar. Sedangkan impor migas US$ 9,0 miliar.
"Menurut golongan penggunaan barang, nilai impor Januari–Maret 2024 terhadap periode yang sama tahun sebelumnya terjadi penurunan pada golongan bahan baku/ penolong US$ 821,0 juta (2,01%). Sementara golongan barang konsumsi dan barang modal naik US$ 760,4 juta (16,11%) dan US$ 6,2 juta (0,07 %)," paparnya.

