Kerek Konsumsi Rumah Tangga, Ekonom Berharap Implementasi PPN 12% Ditunda
JAKARTA, investortrust.id – Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira meminta pemerintah untuk menunda penerapan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12% mulai 1 Januari 2024.
Bhima berharap bahwa pemerintah justru menurunkan PPN menjadi 8-9%. Langkah ini menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga. “Tunda dulu kenaikan PPN 12%. Bahkan, jika perlu PPN diturunkan menjadi sekitar 8-9% untuk stimulus konsumsi domestik,” katanya saat taklimat media yang digelar daring, Senin (5/8/2024).
Dia mengatakan, saat ini kelas menengah Indonesia sedang mengalami tekanan. Sementara itu, kelas atas cenderung untuk menahan konsumsi berlebih. “Kalaupun mereka (kelas atas) keluar uang mereka cenderung untuk investasi. Menggeser tabungan ke produk investasi,” ujar dia.
Baca Juga
Selain menggerakkan konsumsi dengan penurunan PPN, Bhima juga menyarankan, pemerintah menggenjot proyek infrastruktur. Menurut dia, berbagai proyek infrastruktur di era rezim pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) perlu diteruskan ke pemerintahan Prabowo Subianto.
“Di era Prabowo rencananya ada 50 bendungan baru. Itu tolong diperhatikan dampanya pada spillover pada sektor swasta dan UMKM. Itu harus nyambung,” kata dia.
Bhima melihat besarnya belanja infrastruktur berkorelasi dengan peningkatan daya saing di industri pengolahan maupun yang lebih berkualitas. Ini karena investasi sekarang semakin sedikit korelasinya dengan serapan tenaga kerja.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sedang mensimulasikan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPn) menjadi 12% pada 2025 dan diprediksi dapat memberikan tambahan penerimaan sebesar Rp 70 triliun.
Baca Juga
“Kalau dampak potensinya gampang hitungnya. Kalau naik dari 11% ke 12% itu kan naik 1%. 1/11 itu kan katakan 10%. Total realisasi PPN kita Rp 730-an triliun, berarti kan tambahannya sekitar Rp 70-an triliun,” kata Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, sehari lalu.
Susi, sapaannya, mengungkapkan pihaknya sedang menghitung dampak kenaikan PPN menjadi 12% terhadap perekonomian. Selain itu, dia juga menakar kemampuan dunia usaha apabila PPN naik menjadi 12% tahun depan.

