Jebakan Kelas Menengah Hambat Kemajuan 108 Negara Berkembang
JAKARTA, investortrust.id - Bank Dunia merilis laporan terbaru mengenai hambatan kemajuan bagi 108 negara berkembang. Dalam laporan berjudul The Middle Income Trap tersebut diungkapkan kelas menengah atau middle income trap membuat negara-negara seperti China, India, Brazil, dan Afrika Selatan menghadapi hambatan serius untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi dalam beberapa dekade mendatang.
Bank Dunia menyebut, sejak tahun 1990, hanya 34 negara berpenghasilan menengah berhasil beralih status ke negara berpenghasilan tinggi. Meski demikian, lebih dari sepertiga di antaranya adalah penerima manfaat integrasi ke dalam Uni Eropa dan penemuan sumber daya alam seperti minyak.
Baca Juga
Pada 2023, Bank Dunia mengklasifikasikan 108 negara sebagai “berpendapatan-menegah”. Negara-negara itu masuk klasifikasi, karena memiliki pendapatan per kapita dalam rentang US$ 1.136 hingga US$ 13.845.
Bank Dunia menyebut negara-negara ini penting bagi kemakmuran global jangka panjang. “Negara-negara tersebut menyumbang 40% aktivitas ekonomi global, lebih dari 60% penduduk yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, dan lebih dari 60% emisi karbondioksida global,” tulis laporan tersebut, diakses Jumat (1/8/2024).
Bank Dunia menyebut, 108 negara itu menghadapi tantangan lebih besar dibandingkan pendahulunya ketika melompat dari kelas menengah. Tiga tantangan yang dihadapi 108 negara tersebut yaitu populasi yang menua dengan cepat, proteksionisme yang meningkat di negara maju, dan kebutuhan untuk mempercepat transisi energi.
Baca Juga
Menko Airlangga: Jakarta dan Kalimantan Timur Sudah Lolos Middle Income Trap
“Pertarungan untuk mencapai kemakmuran ekonomi global sebagian besar akan ditentukan oleh negara-negara berpendapatan menengah,” kata Kepala Ekonom Grup Bank Dunia Indermit Gill.
Tetapi, kata Gill, masih banyak negara yang menggunakan strategi usang untuk meraih target ekonomi maju. Dia mengatakan negara-negara tersebut mengandalkan investasi yang terlalu panjang atau beralih terlalu dini ke inovasi. “Diperlukan pendekatan baru,” kata dia.
Pendekatan yang pertama, kata Gill, yaitu fokus pada investasi. Kedua, infus teknologi dari investasi asing. Ketiga, mengadopsi strategi yang menyeimbangkan investasi, infus teknologi, dan inovasi.
“Dengan meningkatkan tekanan demografis, ekologis, dan geopolitik, dan tidak ada ruang untuk kesalahan,” ujar dia.
Baca Juga
Menko Airlangga: Kebijakan Hilirisasi Jadi Tumpuan Lepas dari Middle Income Trap
Laporan tersebut mengusulkan strategi 3i, investasi, infus teknologi, dan inovasi, untuk mencapai status negara berpenghasilan tinggi. Strategi ini dapat diterapkan sesuai tahap perkembangan masing-masing negara tingkatan negara tersebut.
Negara berpenghasilan rendah dapat fokus hanya pada kebijakan yang dirancang untuk meningkatkan investasi atau fase 1. Namun setelah mencapai status berpenghasilan menengah bawah, mereka perlu mengubah mesin penggerak dan memperluas campuran kebijakan ke fase 2i, investasi dan infus, yang terdiri dari mengadopsi teknologi dari luar negeri dan menyebarkannya ke seluruh ekonomi.
Pada tingkat berpenghasilan menengah atas, negara-negara harus mengubah mesin penggerak lagi ke fase 3i terakhir yaitu investasi, infus teknologi, dan inovasi. Pada fase inovasi, negara tidak lagi sekadar meminjam ide dari garis depan teknologi global, mereka mendorong garis depan tersebut.

