Manufaktur Jadi Kunci Indonesia Buka Gembok Jebakan Kelas Menengah
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Bambang Brodjonegoro menyebut salah satu kunci untuk lolos dari jebakan kelas menengah (middle income trap) yaitu memaksimalkan pengembangan sektor manufaktur. Alasannya, sektor manufaktur telah menjadi pengungkit ekonomi banyak negara di dunia.
“Contoh paling gampang, Jepang dan Korea Selatan, mereka membuat keajaiban seperti itu. Artinya cepat sekali menjadi maju karena mereka punya sektor manufaktur yang sangat kompetitif,” ujar Bambang saat menjadi pembicara di RDPU Rancangan Undang-Undang Rancangan Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RUU RPJPN) 2025-2045, dipantau daring, Rabu (13/3/2024).
Data yang ditampilkan Bambang menunjukkan, sektor manufaktur memberi sumbangan terhadap gross domestic bruto (GDP) yang begitu besar. Korea selatan misalnya, pada 1988, sektor manufaktur menyumbang 28% dari GDP. “Indonesia hari ini di sekitar 22%” kata dia.
Baca Juga
PMI Manufaktur Indonesia Masih Ekspansif, Meski Turun 0,2 Poin
Sementara itu, Singapura menghasilkan sumbangan dari sektor manufaktur sebesar 26,5% dari GDP pada 1980. Adapun Puerto Rico mendapat sumbangan 36,8% dari sektor ini pada 1980. Pada tahun ini, GDP per kapita Singapura dan Puerto Rico mencapai hampir US$ 5.000 hampir setara dengan Indonesia pada 2022.
“Sebagai perbandingan, paling gampang adalah Korea Selatan. Yang tidak punya sumber daya alam (SDA), tapi mereka sukses dengan sektor manufaktur seperti Samsung, LG, Hyundai,” ujar dia.
Bambang mengatakan jenama asal Korea Selatan itu kini mampu menjadi produk yang dikenal luas di dunia. Dia menyebut, produk-produk itu mampu bergerak kompetitif.
Baca Juga
Jepang dan Inggris Resesi, Kemenperin Klaim Kinerja Industri Manufaktur RI Kuat
Untuk mengejar mimpi itu, Indonesia perlu memastikan menggapai lima sasaran penting. Dia mengatakan, sebagai negara maju, pendapatan masyarakat harus setara dengan negara maju. “Sekitar US$ 13.000 per kapita,” ucap dia.
Selain itu, sasaran lainnya yaitu kemiskinan menuju nol. “Kemiskinan kita masih 9%. Berarti kita bawa sekecil mungkin menuju 0%” ujar dia.
Sasaran lain yaitu gini ratio Indonesia dalam kategori moderat. Dengan begitu, pemerintah perlu menurunkan ketimpangan tersebut menuju kategori rendah.
“Kita juga harus punya pengaruh di dunia internasional. Caranya adalah daya saing sumber daya manusia (SDM) itu menjadi kunci,” kata dia.
Terakhir, yang penting yaitu, menjaga sustainability. “Dan emisi kita harus menuju net zero emission,” ujar dia.

