Pemerintah dan IIX Perkenalkan Orange Bonds, Upaya Dukung Kesetaraan Gender
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), bersama Impact Investment Exchange (IIX), berkolaborasi memperkenalkan obligasi oranye atau Orange Bonds. Langkah ini sekaligus mendukung misi Orange Movement dalam menciptakan sistem keuangan yang mendukung kesetaraan gender.
"Ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan gender dan dampak perubahan iklim, dengan mengintegrasikan prinsip keuangan berkelanjutan ke dalam pasar modal. Orange Bonds sejalan dengan agenda SDGs Indonesia. Dinamakan warna oranye, sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan PBB 5 (UN SDG5) untuk Kesetaraan Gender, yakni Orange Movement™," kata Koordinator Ahli Sekretariat Nasional SDGs Bappenas Yanuar Nugroho di Jakarta, Rabu (10/7/2024).
Baca Juga
Asing Net Sell Saham Rp 0,17 Triliun Rabu, Capital Inflow Pasar Keuangan Rp 98 Triliun Ytd
Kesenjangan Pembiayaan Rp 24.000 T
Ia mengungkapkan, pemerintah membutuhkan sejumlah instrumen pendanaan inovatif untuk mencapai target menjadi negara maju di tahun 2045. Selain itu, ia menyebut terdapat kesenjangan pembiayaan SDGs yang mencapai Rp 24.000 triliun.
“Dalam konteks ini, peran sektor swasta dan instrumen keuangan inovatif menjadi sangat penting untuk mengisi kekurangan pembiayaan yang ada," tandasnya.
Pada kesempatan yang sama, COO Impact Investment Exchange (IIX) Angela Ng mengatakan, Orange Bonds masih dalah tahap pengenalan. Ia menjelaskan, fokus utama saat ini adalah soal studi kelayakan mengenai pengenalan Obligasi Oranye di Indonesia.
Studi tersebut akan menyoroti peluang dan rekomendasi untuk memperkenalkan Orange Bonds dalam mendukung pembangunan bangsa yang inklusif dan berorientasi SDGs. Studi ini juga mengangkat tantangan identifikasi dan transparansi proyek dalam obligasi tematik yang ada saat ini, seperti Obligasi Hijau dan Sukuk Hijau.
"Kami berharap dapat menciptakan ekosistem yang setara gender dan berketahanan iklim, untuk membantu Indonesia mencapai agenda SDG dengan memanfaatkan potensi Orange Bonds," kata Angela.
Target Orange Bonds
Inisiatif Orange Movement tercatat dipimpin oleh Komite Pengarah Global yang terdiri dari ANZ, Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT), IIX, Nuveen, Badan Keuangan Pembangunan Internasional (DFC) Amerika Serikat, dan Water.org.
Gerakan tersebut turut mendorong pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia, yang meliputi kesetaraan gender, transisi iklim, dan kemakmuran ekonomi, melalui pengenalan Orange Bonds di Indonesia. Ini bertujuan menggerakkan Orange capital sebesar US$ 1 miliar di Indonesia pada tahun 2025.
Baca Juga
Eks Karyawan Bobol 122 Rekening, Bank Jago Pastikan Dana Nasabah Aman
Kemudian melalui Orange Bonds sebagai kelas asetlintas sektoral, Gerakan Oranye bertujuan memobilisasi US$ 10 miliar untuk memberdayakan 100 juta perempuan, anak perempuan, dan minoritas gender secara global pada tahun 2030. Berbeda dengan obligasi keberlanjutan tradisional yang berfokus terutama pada inisiatif ramah lingkungan, Orange Bonds secara unik mengatasi titik temu antara hasil dampak sosial dan lingkungan serta meningkatkan transparansi dalam ekosistem.
Selain itu, dukungan pembiayaan obligasi tematik ini untuk mengembangkan ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang masih terbatas. "Oleh karena itu, peluncuran Orange Bonds ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan pembiayaan dan mendukung masyarakat dan UMKM yang berfokus pada perempuan," imbuhnya.
Ekosistem UMKM, yang menyumbang 61% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan mencakup 97% penciptaan lapangan kerja, sangat penting bagi pembangunan inklusif di Indonesia. Selain itu, dalam mendorong penghidupan bagi perempuan dan masyarakat melalui solusi berdampak tinggi.

