Industri Petrokimia Tertekan Akibat Banjirnya Produk Jadi Plastik Asal China
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mengungkap industri petrokimia tertekan setelah derasnya impor bahan baku dan barang jadi plastik asal China.
Sekjen Asosiasi Inaplas Fajar Budiono menyebutkan, China agresif membangun fasilitas produksi petrokimia sebagai bahan baku plastik selama pandemi Covid-19. Namun, pertumbuhan pasar pasar domestik negara tersebut tidak memadai untuk menyerap produksi tersebut.
Baca Juga
Aturan Bea Masuk Impor Tujuh Produk Dikaji, Tarif bisa Sampai 200%
Kondisi ini mendorong China mulai mencari pasar baru dengan mengekspor produknya ke sejumlah negara, seperti Indonesia. Produk tersebut kian membanjiri Indonesia setelah pemerintah merelaksasi kebijakan importasi melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024.
“Para produsen plastik lokal pun kesulitan bersaing dengan produk impor dari China. Akibatnya, tingkat utilisasi produsen lokal terus menyusut hingga mencapai 50% saat ini,” ucapnya pada diskusi Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Senin (8/7/2024).
Jika peredaran bahan baku dan barang jadi plastik impor terus berlanjut, Fajar menilai, bukan tidak mungkin pabrik-pabrik produksi plastik lokal akan banyak yang tutup. Hal ini tentu merugikan industri lain yang banyak memanfaatkan produk plastik, seperti makanan-minuman, peralatan rumah tangga, hingga otomotif.
Oleh sebab itu, Fajar mengungkapkan, masalah banjir produk impor yang berasal dari China tersebut bisa teratasi jika pemerintah segera memperbaiki peraturan importasi yang ada. "Permendag Nomor 36 Tahun 2023 harus diterapkan kembali untuk membatasi produk impor plastik dari China," ungkap Fajar.
Baca Juga
Gara-Gara Ini, Investasi Industri Petrokimia Rp 511 Triliun Terancam Gagal
Selain itu, Fajar meminta agar pemeritah memahami tantangan yang sedang dihadapi oleh industri dalam negeri, khususnya di sektor petrokimia. Apalagi, industri petrokimia merupakan salah satu sektor yang berkontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.
“Oleh karena itu, pemerintah harus membuat kebijakan yang holistik yang dapat membantu tumbuh kembangnya industri mulai dari hulu seperti sektor petrokimia, kemudian di intermediate ada industri polyester dan filament, serta untuk sektor hilir terdapat industri tekstil dan plastik,” terangnya.
