Rupiah Rebound Tipis, Ditutup di Level Rp 16.421/USD
Reporter | Farhan Nugraha
Editor |
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah menguat pada penutupan perdagangan Kamis (27/6/2024) sore. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), kurs rupiah menguat 14 poin ke level Rp 16.421/USD.
Hal yang sama juga terlihat dari data perdagangan spot yang dilansir Yahoo Finance. Sampai dengan pukul 16.00 WIB, mata uang Garuda menguat tipis 4 poin ke level Rp 16.395/USD, dibanding penutupan perdagangan sebelumnya sempat melemah di posisi Rp 16.399/USD.
Menurut analisis Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, saat ini, indeks dolar masih cenderung bergerak fluktuatif dan terapresiasi, disebabkan oleh sejumlah hal. Ia menyorot arus masuk dana ke dolar, terutama didorong oleh antisipasi data indeks harga PCE, yang akan dirilis pada hari Jumat.
"Angka tersebut merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed, dan diperkirakan akan menjadi faktor dalam sikap bank sentral terhadap suku bunga," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (27/6/2024).
| Perkembangan rupiah berdasarkan Jisdor BI dalam lima tahun terakhir, hingga 27 Juni 2024. Sumber: BI. |
Baca Juga
Cegah Dumping, Pemerintah Akan Terbitkan Aturan Bea Masuk Tekstil
The Fed Pertahankan Bunga Lama
Ia mengatakan data indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) diperkirakan menunjukkan inflasi sedikit menurun pada Mei 2024. Namun, tetap berada di atas target tahunan The Fed sebesar 2%.
Inflasi yang stagnan memberi The Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. "Ini juga skenario yang berdampak buruk bagi emas dan logam mulia," paparnya.
Inflasi yang stagnan memberi The Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. "Ini juga skenario yang berdampak buruk bagi emas dan logam mulia," paparnya.
Ia mengatakan, komentar hawkish dari pejabat Fed juga memperkuat ekspektasi akan tingginya suku bunga acuan Amerika Serikat dalam beberapa sesi terakhir. Suku bunga yang lebih tinggi akan meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam berinvestasi pada aset-aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), dan membuat para pedagang menjadi lebih bias terhadap dolar dan surat utang AS.
Sebelumnya, Gubernur The Fed Michelle Bowman mengatakan, Bank Sentral AS kemungkinan akan mempertahankan suku bunga stabil untuk beberapa waktu, dalam upaya membantu mengendalikan peningkatan inflasi. Ia tidak memperkirakan bank sentral akan memotong biaya pinjaman pada tahun 2024.
Bowman yang biasanya dipandang sebagai salah satu tokoh The Fed yang bersuara lebih hawkish menyatakan bahwa penurunan suku bunga belum pantas dilakukan. Ia bahkan menambahkan tetap 'bersedia' untuk menaikkan suku bunga lebih jauh, jika kemajuan dalam upaya mengendalikan inflasi terhenti atau berbalik arah.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif di kisaran Rp 16.390-16.450/USD," tuturnya.
