Yen Anjlok 13,4% Ytd, Rupiah Melemah 6,8%
JAKARTA, investortrust.id – Rencana penurunan suku bunga acuan The Fed yang kemungkinan ditunda hingga akhir tahun ini mendorong tren penguatan indeks dolar Amerika Serikat, dan merontokkan mata uang banyak negara lain. Bahkan, nilai tukar hard currency seperti yen Jepang anjlok 13,4% year to date (ytd). Kurs peso Argentina juga merosot sebesar 12,1% dan rupiah melemah 6,8%, berdasarkan data Google Finance.
Pada Rabu (26/6/2024) sore ini, rupiah melemah hingga kembali menembus batas psikologis Rp 16.400/USD, tepatnya Rp 16.429,5. Kurs rupiah melemah 1,1% sepanjang Juni 2024 dan 9,2% year on year.
Sedangkan yen Jepang tercatat di level 159,9/USD Rabu sore ini. Yen terdepresiasi 1,7% sepanjang Juni ini dan menembus 11,5% yoy.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro menyebut, saat ini, investor tengah menanti kejelasan lebih lanjut mengenai prospek penurunan suku bunga Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed). “Ekspektasi pasar cenderung pada The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya pada waktu yang tepat. Namun demikian, terdapat dilema bila terlalu dini dikhawatirkan memicu inflasi AS meningkat, sedangkan bila menunda pemangkasan suku bunga akan menimbulkan perlambatan ekonomi yang berujung resesi,” kata Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro, Jakarta, Rabu (26/6/2024).
Secara umum, bertahan tingginya suku bunga acuan AS di level 5,25-5,50% mendorong arus dana global masuk ke negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu, dan keluar dari portofolio di emerging markets. Hal ini menekan mata uang Indonesia dan negara berkembang lainnya.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjoyo memaparkan kini terjadi ekspektasi penundaan suku bunga Fed Funds Rate (FFR). Bila semula banyak yang memperkirakan penurunan FFR pertama tahun ini terjadi pada September, belakangan diperkirkan bisa pada akhir tahun.
“Ekonomi Amerika Serikat tumbuh kuat ditopang oleh perbaikan permintaan domestik dan peningkatan ekspor, dengan penurunan inflasi AS yang masih berjalan lambat. Kondisi ini mendorong FFR diprakirakan baru akan turun pada akhir tahun 2024,” katanya.
Baca Juga
Kebijakan moneter negara maju serta masih tingginya ketegangan geopolitik menyebabkan ketidakpastian pasar keuangan global tetap tinggi pada Juni ini. Berbagai perkembangan tersebut, dan dengan tingginya yield US treasury, menyebabkan menguatnya nilai tukar dolar AS dan meningkatkan tekanan pelemahan nilai tukar berbagai mata uang dunia, serta menahan aliran masuk modal asing ke negara berkembang.
“Pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh dampak tingginya ketidakpastian pasar global, terutama berkaitan dengan ketidakpastian arah penurunan FFR, penguatan mata uang dolar AS secara luas, dan masih tingginya ketegangan geopolitik. Ditambah faktor domestik, tekanan pada rupiah juga disebabkan oleh persepsi terhadap kesinambungan fiskal ke depan serta kenaikan permintaan valas oleh korporasi, termasuk untuk repatriasi dividen,” ucapnya.
Jangka Panjang Menguat
Meski demikian, Perry meyakini nilai tukar rupiah dapat kembali menguat, di bawah level Rp 16.000/USD. Keyakinan tersebut dilandasi perkembangan fundamental ekonomi belakangan.
Perry mengingatkan, pergerakan nilai tukar rupiah di pasar valas tidak lepas dari sejumlah faktor-faktor fundamental, di antaranya tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, defisit transaksi berjalan Indonesia, hingga perbedaan suku bunga RI dengan AS. "Jika melihat fundamental Indonesia, kami yakin rupiah bisa lebih rendah dari Rp 16.000/USD. Sejumlah faktor yang memperkuat potensi pergerakan nilai tukar rupiah menjadi lebih rendah dari Rp 16.000/USD misalnya inflasi dalam negeri yang turun ke sekitar 2,8% year on year pada Mei 2024 (lebih rendah dibandingkan AS sebesar 3,3% yoy)," kata Perry di Jakarta, 20 Juni 2024.
Baca Juga
Dorong Ekonomi Tumbuh Tinggi, Utang Pemerintah Masukkan ke Sektor Impactful
Selain itu, ia menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2024 tercatat mencapai 5,11% yoy. Capaian ini dikategorikan baik.
Current account deficit (CAD) RI juga tergolong rendah. CAD berkisar 0,1-0,9% dari produk domestik bruto (PDB).
"Itu faktor fundamental yang akan memengaruhi tren. Kami masih yakin tren nilai tukar rupiah ke depan menguat," tandasnya.
BI juga menilai nilai tukar rupiah hingga 19 Juni 2024 relatif terjaga, meski sempat tertekan 0,70% point to point. Sedangkan pada Mei 2024, rupiah sempat menguat 0,06% (ptp) dibandingkan akhir bulan sebelumnya.

