Greenpeace: Indonesia di Simpang Jalan Ilusi Pertumbuhan Ekonomi dan Dampak Industri Tambang
JAKARTA, investortrust.id - Country Director Greenpeace Indonesia Leonard Simanjutak menyebut Indonesia berada di simpang jalan antara ilusi pertumbuhan ekonomi dan dampak dari industri tambang ekstraktif. Leonard mengatakan meski menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi, sektor pertambangan berdampak bagi sosial, ekonomi, dan lingkungan.
“Kalau kita bedah sumbangannya terhadap lapangan kerja Indonesia tidak terlalu besar. Tetapi, ada juga cost yang “tersembunyi” bahwa ada degradasi lingkungan, konflik sosial, dan juga penurunan kualitas hidup di banyak tempat,” kata Leonard saat diskusi Industri Pertambangan vs Nasib Ekonomi Hijau Pemerintahan Prabowo-Gibran” di Jakarta, Rabu (26/6/2024).
Menjelang pergantian kekuasaan pada 20 Oktober 2024, Leonard mempertanyakan apakah pemerintahan Prabowo-Gibran akan meneruskan ekonomi yang berbasis industri ekstraktif yang mengobarkan banyak hal. Atau, kata dia, pemerintahan baru akan mencari alternatif ekonomi lain.
Baca Juga
Leonard menyebut performa pertumbuhan ekonomi Indonesia bersifat ilusi. Ini karena pertumbuhan ekonomi yang muncul banyak menutupi banyak persoalan sosial dan lingkungan.
“Hampir seluruh Daerah Aliran Sungai (DAS) kita sudah rusak. Polusi dan sebagainya. Kita juga juara terus pencemaran udara,” kata dia.
Dampak dari kerusakan lingkungan itu, kata Leonard, juga berakibat ke krisis iklim. Ini dapat dilihat dari banyaknya bencana hidrometeorologis yang terjadi misalnya bencana banjir, longsor, serta hujan dan kekeringan ekstrem.
“Itu mendominasi. Rata-rata bencana meteorologis itu 95% mendominasi bencana di Indonesia, yang 5% geologis,” ujar dia.
Baca Juga
Hilirisasi Tambang Rampung, Pemerintah Bakal Geber Hilirisasi Agro
Untuk itu, Leonard menyarankan pemerintah mendatang memikirkan ulang visi ekonomi Indonesia. Sebab, dia mengklaim, kerusakan lingkungan yang muncul akibat posisi ekonomi Indonesia.
“Ekonomi kita menyebabkan emisi karbon, konsentrasi di udara tinggi. Ekonomi kita yang bikin polusi di sungai dan udara. Ekonomi kita juga menimbulkan degradasi lingkungan yang lain,” kata dia.
Dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF) 2025, kinerja sektor pertambangan terus menunjukkan peningkatan. Pada 2023, sektor ini tercatat 6,1%.
Kinerja sektor ini ditopang subsektor pertambangan batubara yang tumbuh 10%, bijih logam tumbuh 8,5%, dan pertambangan galian lainnya yang tumbuh 5,4%.
Pada kuartal-I 2024, sektor pertambangan tumbuh 9,3% didorong pertumbuhan permintaan tembaga dan batubara.

