DeepSeek dan Tumbangnya Ilusi Keunggulan Silicon Valley
JAKARTA, Investortrust.id - Pekan ini, DeepSeek, sebuah chatbot bertenaga AI gratisan asal China, membuat raksasa teknologi Amerika malu, bahkan memicu kepanikan di kalangan investor, dan menyebabkan pasar global anjlok. Natalia Antelava dari codastory.com menuliskan sebuah gambaran ambyarnya ilusi keunggulan Silicon Valley begitu DeepSeek hadir. Ia juga begitu lugas mengulas betapa sejauh ini para engineer asal AS telah begitu pongah dengan menganggap perkembangan teknologi di Amerika Serikat telah menjadi kiblat bagi dunia.
Investor Marc Andreessen menggambarkan kemunculan Deep Seek sebagai "momen Sputnik dalam AI", yaitu titik di mana rasa percaya diri dan keyakinan diri berubah menjadi kesombongan. Yang jatuh bukan hanya harga saham, tetapi juga narasi yang selama ini dibangun dengan hati-hati tentang supremasi teknologi Amerika.
Sekadar gambaran, Momen Sputnik dalam sejarah terjadi ketika Uni Soviet berhasil meluncurkan satelit pertama di dunia, Sputnik 1, pada tahun 1957. Keberhasilan ini mengejutkan Amerika Serikat dan memicu perlombaan luar angkasa selama Perang Dingin, yang akhirnya mendorong AS untuk meningkatkan investasi besar-besaran dalam riset dan teknologi, termasuk pembentukan NASA.
Namun, mungkin kejutan sebenarnya adalah betapa Silicon Valley benar-benar terkejut dengan kehadiran DeepSeek.
Selama bertahun-tahun, Silicon Valley dan para pendukungnya menyebarkan narasi tentang dominasi Amerika yang tak terelakkan dalam industri kecerdasan buatan. Mulai dari artikel sampul Harvard Business Review berjudul "Why China Can’t Innovate" hingga liputan media yang penuh kekaguman terhadap investasi miliaran dolar di bidang AI, media AS telah mengukir citra keunggulan teknologi Barat yang tak tertandingi. Bahkan minggu ini, ketika Wired melaporkan tentang "kejutan, kekaguman, dan pertanyaan" yang dipicu oleh DeepSeek, subteks yang tetap muncul adalah bahwa efisiensi teknologi dari pihak yang tidak terduga terasa seolah-olah tidak sah.
"Di Barat, kesombongan dan kepuasan diri kita adalah kelemahan terbesar kita," kata analis data Christopher Wylie, penulis MindFck, yang terkenal sebagai pelapor skandal Cambridge Analytica pada tahun 2017.
Baca Juga
DeepSeek Kejutkan Dunia, Meta Yakin China Tak Akan Geser Dominasi AS di Pasar AI
Kesombongan itu begitu jelas terlihat tahun lalu ketika CEO OpenAI, Sam Altman, berbicara di hadapan audiens di India dan menyatakan: "Sama sekali tidak ada harapan untuk bersaing dengan kami. Kalian boleh mencoba, dan memang itulah tugas kalian, tetapi saya yakin itu sia-sia." Ia secara terang-terangan menolak kemungkinan bahwa tim di luar Silicon Valley dapat membangun sistem AI yang substansial dengan sumber daya terbatas.
Masih ada pertanyaan apakah DeepSeek memiliki akses ke daya komputasi yang lebih besar dari yang mereka akui. CEO Scale AI, Alexandr Wong, dalam sebuah wawancara baru-baru ini mengatakan bahwa perusahaan China tersebut memiliki akses lebih banyak ke ribuan chip berkualitas tinggi meskipun ada kontrol ekspor dari AS.
Altman tidak pernah membayangkan bahwa pesaingnya akan bergerak di luar aturan main yang coba ia tetapkan. Justru DeepSeek memilih untuk menciptakan permainan baru dengan caranya sendiri.
Dengan mengembangkan model AI yang setara—dan dalam banyak hal bahkan melampaui—model Amerika, DeepSeek menantang narasi Silicon Valley bahwa inovasi teknologi membutuhkan sumber daya yang sangat besar dan pengawasan yang minimal. OpenAI telah saja menggelontorkan ratusan miliar dolar untuk pusat data raksasa. Sebut saja proyek Stargate yang menetapkan investasi awal sebesar US$ 100 miliar. Sementara DeepSeek menunjukkan jalur inovasi yang sepenuhnya berbeda.
"Untuk pertama kalinya secara publik, mereka menyediakan cara yang efisien untuk melatih model penalaran," jelas Thomas Cao, profesor kebijakan teknologi di Tufts University. "Secara teknis, mereka menemukan metode reinforcement learning tanpa supervisi. Anda tidak perlu memberi label secara manual pada banyak data. Itu membuat mereka jauh lebih efisien," imbuhnya.
Bagi media Amerika, yang telah lama terbuai dengan mitos keunggulan Silicon Valley, kisah DeepSeek sulit untuk diterima. Wylie berpendapat bahwa meskipun negara-negara di Asia telah membuat terobosan teknologi besar, narasi yang terus dikisahkan kepada masyarakat Amerika justru berfokus pada keistimewaan teknologi Amerika.
Pendekatan alternatifnya adalah dengan mengakui bahwa "China telah melakukan hal-hal baik yang bisa kita pelajari, tanpa harus mengadopsi aspek negatifnya. Hal-hal bisa berjalan secara paralel." Namun, alih-alih bersikap objektif, Wylie mengatakan bahwa media arus utama justru mengikuti jejak para politisi dalam memperkuat narasi "ancaman China."
Ketakutan geopolitik ini telah membantu perusahaan-perusahaan teknologi besar melindungi diri dari persaingan nyata dan pengawasan regulasi. Narasi tentang "perlombaan AI" ala Perang Dingin dengan Tiongkok juga memperkuat asumsi bahwa kekuatan teknologi besar dapat dipaksa menyerah melalui pembatasan perdagangan.
Baca Juga
Bos OpenAI Puji-puji Keberhasilan AI China DeepSeek-R1, tetapi...
Namun, asumsi itu kini runtuh. Selama dua tahun terakhir, AS telah berupaya membatasi perkembangan AI di Tiongkok melalui kontrol yang semakin ketat terhadap semikonduktor canggih. Pembatasan ini, yang dimulai di bawah pemerintahan Biden pada tahun 2022 dan diperluas secara signifikan pekan lalu oleh Trump, dirancang untuk mencegah perusahaan Tiongkok mendapatkan chip paling canggih yang dibutuhkan dalam pengembangan AI.
DeepSeek mengembangkan modelnya menggunakan chip generasi lama yang telah mereka kumpulkan sebelum pembatasan ekspor diberlakukan. Keberhasilan ini dianggap sebagai contoh nyata dari inovasi mandiri yang autentik. Namun, Profesor Cao mengingatkan agar tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa pembatasan ekspor telah menjadi pemicu utama perkembangan dan inovasi di DeepSeek. "Jika tidak ada pembatasan ekspor," katanya, "DeepSeek bisa saja bekerja lebih efisien dan lebih cepat. Kita tidak tahu seperti apa skenario alternatifnya."
Dalam banyak hal, DeepSeek merupakan bantahan langsung terhadap asumsi Barat tentang inovasi di Tiongkok serta metode yang digunakan Barat untuk mengekangnya.
Saat jutaan orang Amerika mengunduh DeepSeek, dan menjadikannya aplikasi paling banyak diunduh di AS, Steven Heidel dari OpenAI dengan kesal mengklaim bahwa menggunakan aplikasi tersebut berarti menyerahkan data kepada Partai Komunis China. Para legislator pun memperingatkan risiko terhadap keamanan nasional, dan puluhan laporan media menyuarakan kekhawatiran bahwa aplikasi ini mungkin mengirimkan data dari AS ke Tiongkok.
Namun, terlepas dari masalah keamanan, yang benar-benar membedakan DeepSeek dari pesaingnya di Barat bukan hanya efisiensi modelnya, tetapi juga kenyataan bahwa ia bersifat open source. Hal ini, secara paradoks, menjadikan aplikasi yang didanai Beijing lebih demokratis dibandingkan para pendahulunya di Silicon Valley.
Dalam perdebatan sengit seputar inovasi teknologi, "open source" bukan sekadar istilah teknis, tetapi juga sebuah filosofi tentang transparansi. Berbeda dengan model kepemilikan (proprietary) di mana kode dijaga ketat sebagai rahasia perusahaan, open source memungkinkan pengawasan global dan perbaikan kolektif.
Pada intinya, open source berarti kode sumber dari suatu perangkat lunak yang tersedia secara bebas bagi siapa saja untuk dilihat, dimodifikasi, dan didistribusikan. Dengan teknologi open source, pengguna dapat mengunduh seluruh kode, menjalankannya di server mereka sendiri, serta memverifikasi setiap baris fungsinya.
Bagi konsumen dan teknolog, open source berarti kebebasan untuk memahami, mengubah, dan meningkatkan teknologi tanpa perlu meminta izin. Ini adalah model yang lebih mengutamakan kemajuan kolektif daripada kendali korporasi.
Bahkan, raksasa teknologi Tiongkok seperti Alibaba telah merilis versi terbaru dari model bahasa besar (large language model) mereka sendiri, yang mereka klaim sebagai peningkatan dari DeepSeek.
Berbeda dengan ChatGPT atau sistem AI Barat lainnya, DeepSeek dapat dijalankan secara lokal tanpa harus membagikan data pengguna. "Terlepas dari ketakutan yang disebarkan media, ironi sebenarnya adalah DeepSeek mungkin justru pilihan yang paling menjaga privasi," kata Wylie. "Jika saja Sam Altman menjadikan OpenAI open source, dia mungkin akan dinominasikan untuk menerima hadiah Nobel Perdamaian."
Baca Juga
'Market Cap' Nvidia Tergerus US$ 600 Miliar Gara-Gara Sentimen DeepSeek
Sifat open-source DeepSeek menjadi salah satu faktor utama yang mengganggu dominasi Silicon Valley. Hal ini tidak hanya menantang model kepemilikan (proprietary) yang selama ini dipegang Silicon Valley, tetapi juga mengguncang asumsi kolektif publik tentang pengembangan AI dan persaingan global. Tak heran, salah satu respons Silicon Valley adalah mengeluhkan bahwa perusahaan China telah menggunakan kekayaan intelektual perusahaan Amerika. Padahal model bahasa besar (large language models) mereka sendiri juga dibangun dengan mengonsumsi sejumlah besar informasi tanpa izin.
Strategi keterbukaan yang justru berasal dari negara dengan sistem otoriter ini juga memberikan kemenangan besar dalam diplomasi lunak (soft power) bagi China, yang dapat mereka manfaatkan sebagai nilai tambah dalam geopolitik global.
Sama seperti bagaimana algoritma TikTok mengungguli Instagram dan YouTube dengan menitikberatkan aksesibilitas dibandingkan profit, DeepSeek—yang saat ini menjadi aplikasi paling banyak diunduh di iPhone—menandai momen lain di mana pilihan yang lebih baik bagi pengguna (open-source, efisien, menjaga privasi) justru menantang kepentingan korporasi besar.
Masih belum diketahui bagaimana DeepSeek akan mengubah arah perkembangan AI, tetapi seperti momen Sputnik yang dulu mendorong inovasi ilmiah Amerika selama Perang Dingin, DeepSeek bisa saja membangunkan Silicon Valley dari rasa puas dirinya.
Bagi Profesor Cao, pelajaran paling mendesak dari fenomena ini adalah bahwa Amerika Serikat harus kembali berinvestasi dalam penelitian fundamental, atau berisiko tertinggal.
Sedangkan bagi Wylie, dampak DeepSeek di AS memberikan wawasan yang lebih luas: tidak perlu ada Perang Dingin baru dalam AI. "Perang AI hanya akan terjadi jika kita sendiri yang memilih untuk mengadakannya," ujarnya.

