Jokowi Bersyukur Indeks Kompetitif Indonesia Alami Perbaikan di Tengah Ketidakpastian Global
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar rapat kabinet paripurna untuk merespons kondisi ekonomi saat ini. Seperti diberitakan, nilai tukar rupiah terus menyusut di hadapan dolar AS dalam beberapa bulan terakhir. Rupiah spot melemah pada perdagangan Senin (24/6/2024) pagi rupiah spot ada di level Rp 16.455 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,02% dari akhir pekan lalu yang ada di Rp 16.450 per dolar AS.
"Kita tahu dunia berada pada ketidakpastian yang tinggi, di tengah ekonomi dunia yang semakin tidak menentu, situasi geopolitik juga meningkat utamanya di Timur Tengah. Kemudian inflasi dunia meninggi, depresiasi nilai tukar terus menekan ekonomi semua negara," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin (24/6/2024).
Meski tak mudah, Jokowi mengaku bersyukur dengan perbaikan ranking Indonesia di Rangking Kompetitif IMD (International Institute for Management Development) yang naik dari 34 ke 27. Ini, kata Jokowi, membuktikan ekonomi Indonesia mampu bertahan.
"Karena dalam kondisi awal tadi tidak mudah memperbaiki ranking dalam kondisi yang tidak menentu, bahkan Jepang turun 3, peringkat Malaysia turun 7 peringkat," ujar dia.
Baca Juga
Morgan Stanley Nilai Saham Indonesia Underweight, Analis: Harus Jadi Evaluasi
Jokowi mengatakan penurunan peringkat Jepang dan Malaysia karena dua faktor utama. Untuk Jepang, kata Jokowi, penurunan peringkat terjadi karena pelemahan mata uang dan produktivitas. Sementara itu, Malaysia mengalami penurunan 7 peringkat karena pelemahan mata uang dan stabilitas politik.
"Artinya stabilitas politik dan stabilitas mata uang itu penting. Artinya peningkatan produktivitas itu penting," kata dia menambahkan.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menyampaikan peningkatan daya saing Indonesia karena pemerintahan, dunia usaha, dan ekonomi yang stabil. Karena Undang-Undang Cipta Kerja, kata dia, Indonesia mengalami peningkatan 8 level. Sementara itu, di sisi dunia bisnis yang semakin kompetitif, baik tenaga kerja dan produktivitas, level Indonesia menanjak 6 level.
"Karena ekonomi kita baik, bisa mengendalikan growth, itu menjadi kenaikan utama dari daya saing Indonesia," ujar dia.
Jokowi mengatakan ketersediaan tenaga kerja yang memiliki kemampuan memang menempatkan Indonesia di posisi dua dalam ranking tersebut. Akan tetapi, hal itu perlu diikuti dengan peningkatan efisiensi bisnis.

