Kontribusi Terbesar, Pertamina Serap Komponen Dalam Negeri Rp 373,9 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina (Persero) menyerap komponen dalam negeri (KDN) senilai Rp 373,9 triliun. Kontribusinya terbesar atau 47% terhadap total serapan KDN oleh badan usaha milik negara (BUMN), yang mencapai Rp 800 triliun.
“TKDN (tingkat KDN) di Pertamina tahun lalu, kalau kita menghitung TKDN seluruh BUMN, maka 47% itu adalah dari Pertamina. Angkanya, ini adalah (kontribusi) TKDN yang mayoritas atau terbesar, sekitar Rp 364 triliun,” kata Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati kepada para pimpinan media massa di atas cruise, dalam perjalanan dari Benoa menuju Nusa Penida dan Nusa Lembongan, Bali, Sabtu (22/6/2024).
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati saat menjelaskan kinerja Pertamina dan anak usaha kepada para pimpinan media massa di atas cruise dalam perjalanan dari Benoa menuju Nusa Penida dan Nusa Lembongan, Bali, Sabtu (22/6/2024). Video: Investortrust/Primus Dorimulu.
Baca Juga
Uang sekitar Rp 364 triliun itu berarti berputar di industri dalam negeri. Dana ini bisa menyerap tambahan tenaga kerja 4,1 juta orang.
“Jadi, ini memang yang harus kami lakukan, karena untuk meningkatkan daya beli. Sehingga, kami kemudian bisa memberikan kontribusi terhadap (BUMN), sekitar Rp 700 triliun. Ini yang kami hasilkan,” ucapnya.
Harus Keluar Middle Income Trap
Nicke mengatakan, pihaknya ingin memberikan informasi bahwa Pertamina bukan hanya menghasilkan profit. Tapi, juga mendukung pertumbuhan industri nasional agar Indonesia bisa menjadi negara maju dengan penghasilan tinggi, keluar dari dari jebakan negara berpenghasilan menengah.
“Jadi, Pertamina bukan hanya menghasilkan profit, hanya untuk kinerja sendiri. Tetapi, kami juga men-support industri nasional. Karena apa? Karena Indonesia sebetulnya harus segera keluar dari middle income trap,” ujar Nicke.
Baca Juga
Pertamina Grand Prix of Indonesia 2024, Ajang Promosi Sportainment Kelas Dunia
Kalau kita ingin mencapai Indonesia Emas tahun 2045 atau 100 tahun Indonesia merdeka, lanjut dia, syaratnya adalah economic growth-nya harus naik ke 7%. Pada kuartai I-2024, Badan Pusat Statistik mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,11% year on year.
“Dari rata-rata (pertumbuhan ekonomi nasional) 5,3% harus naik ke 7%. Itu hanya bisa kita lakukan dengan industrialisasi. Kalau kita lihat sebetulnya, hari ini kontribusi industri terhadap PDB (produk domestik bruto) itu hanya 18%,” tuturnya.
Kontribusi Industri 30% PDB Negara Maju
Nicke menjelaskan, di negara maju, kontribusi industri terhadap PDB di atas 30%. Indonesia pernah mencapai angka itu di tahun 2002, namun kemudian makin turun kontribusinya.
“Kontribusi industri harus kita tingkatkan, makanya tadi (hilirisasi) harus kami lakukan. Kenapa? Karena untuk meningkatkan industri ada 2 industri dasar yang harus (dimulai), yang pertama adalah industri chemical, ini yang bisa kami masukin. Yang kedua adalah industri besi dan baja,” tandasnya.
Oleh karena itu, lanjut Nicke, perusahaan pelat merah ini melakukan hilirisasi dari oil, petrochemical, gas chemical, kemudian chemical nabati. Ini yang menjadi harus program besar kita.
“Oleh karena itu, refinery petrochemical, gas chemical. Kemudian nabati olah chemical. Ini yang harus menjadi program besar kita,” tandasnya.
Dengan demikian, kita bisa meningkatkan TKDN dan pendapatan. Dalam hal ini, Pertamina akan terus berkontribusi.
“Jadi, kinerja Pertamina, berkontribusi terhadap pengelolaan energi Indonesia di mata dunia. Selain itu, Pertamina berkontribusi terhadap peningkatan industri dalam negeri,” tuturnya. (pd)

