Bulog Serap 120.000 Ton Gabah Kering Panen untuk Pengadaan Beras Dalam Negeri
JAKARTA, investortrust.id - Perum Bulog mencatat sudah melakukan pembelian sebanyak 120.000 ton gabah kering panen (GKP) di tingkat petani untuk pengadaan beras dalam negeri.
“10 hari masa libur Lebaran, jajaran Bulog terus melakukan pengadaan beras dalam negeri. Sampai dengan 14 April 2024 Bulog telah menyerap sekitar 120 ribu ton setara GKP (gabah kering panen) atau sekitar 64 ribu ton setara beras,” kata Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi seperti dikutip dari Antara, Selasa (16/4/2024).
Dia menyampaikan dari jumlah serapan gabah kering panen (GKP) tersebut sekitar 46% diserap selama bulan April termasuk pada hari hari libur Lebaran.
“Daerah-daerah di mana pengadaan beras dalam negeri dilakukan dalam jumlah cukup besar adalah wilayah kerja Bulog Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, dan Yogyakarta,” ujar Bayu.
Baca Juga
Bulog Manfaatkan Fleksibilitas Harga Gabah dan Beras untuk Serap Produksi Dalam Negeri
Meski begitu, Bayu mengaku bahwa dari jumlah 64.000 ton setara beras yang berhasil diserap Bulog tahun ini masih lebih kecil dibandingkan rata-rata pengadaan beras dalam negeri Bulog periode Januari-April 2021-2023 yang mencapai sekitar 375.000 ton.
Menurut dia, hal tersebut merupakan konsekuensi dari keterlambatan tanam dan panen tahun ini akibat fenomena El Nino serta permasalahan produksi lainnya yang telah dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai penurunan produksi kuartal pertama 2024 sekitar 17% dibandingkan 2023.
“Bulog akan terus aktif melakukan pengadaan beras dalam negeri selama musim panen bulan April ini yang diperkirakan masih akan berlanjut pada bulan Mei,” ujar Bayu.
Sebelumnya, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memberlakukan fleksibilitas bagi Perum Bulog untuk harga pembelian pemerintah (HPP) gabah kering panen (GKP) di tingkat petani, menjadi Rp 6.000 per kilogram (kg) dari yang sebelumnya Rp 5.000 per kg.
Baca Juga
Bapanas Terapkan Fleksibilitas Harga Beli Gabah Rp 6.000 per Kg bagi Bulog, Tujuannya Ini
Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi di Jakarta, Jumat (5/4/2024), menyampaikan kebijakan tersebut mulai diberlakukan sejak 3 April 2024 hingga 30 Juni 2024.
“Kami putuskan adanya fleksibilitas HPP bagi Bulog. Ini agar Bulog dapat meningkatkan stok CBP (cadangan beras pemerintah) yang berasal dari produksi dalam negeri, jadi tidak hanya bersumber dari importasi saja,” kata Arief.
Arief menyampaikan hal tersebut usai mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meninjau stok pangan dan bantuan pangan beras di Gudang Perum Bulog Pematang Kandis, Kecamatan Bangko, Kabupaten Merangin, Jambi.
Dia menjelaskan fleksibilitas HPP gabah dan beras yang diterapkan bagi Perum Bulog, yakni gabah kering panen (GKP) di tingkat petani yang sebelumnya Rp 5.000 per kilogram (kg) difleksibelkan menjadi Rp 6.000 per kg. Selanjutnya gabah kering giling (GKG) di gudang Perum Bulog yang sebelumnya Rp6.300 per kg mengalami fleksibilitas menjadi Rp 7.400 per kg.
Baca Juga
Mentan Amran Perintahkan Bulog Beli Gabah Petani, Ini Alasannya
Sedangkan HPP beras di gudang Perum Bulog dengan derajat sosoh minimal 95%, kadar air 14%, butir patah maksimal 20%, dan butir menir maksimal 2% yang sebelumnya Rp 9.950 per kg difleksibelkan menjadi Rp 11.000 per kg.
“Tentu dengan adanya fleksibilitas harga bagi Bulog ini akan menjadi safety net bagi para sedulur petani, agar harga dapat terjaga dengan baik. Tatkala produksi kian meningkat, tentu akan mempengaruhi harga,” ujar Arief lagi.
Arief mengatakan bahwa hal itu sesuai arahan Presiden Jokowi untuk selalu mengingatkan bahwa saat panen raya padi, harga di tingkat petani tidak boleh jatuh terlalu dalam, sehingga pemerintah hadir memastikan bersama Perum Bulog yang telah tugaskan untuk menyerap produksi dalam negeri sebagai stok CBP.

