Kehabisan Gudang, BP BUMN Sebut Bulog Kewalahan Serap Gabah Petani
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN), Dony Oskaria, mengungkapkan Indonesia tengah berada di jalur yang tepat menuju kemandirian pangan. Bahkan ia membeberkan gudang yang dimiliki oleh Perum Bulog kini justru dilaporkan mulai kewalahan menampung stok beras akibat melimpahnya hasil panen petani lokal.
Dony menyebut, keterbatasan kapasitas gudang Bulog saat ini merupakan ‘masalah yang menggembirakan’ karena menjadi bukti konkret bahwa serapan produksi domestik melonjak signifikan.
Ia menyebut tingginya produksi dalam negeri membuat pemerintah harus segera memutar otak untuk menambah ruang penyimpanan.
"Hari ini kita swasembada. Fakta yang ada di tempat kita, Bulog itu kan bagian dari BP BUMN, dan saya hari ini kehabisan gudang-gudang Bulog. Harus menambah gudang Bulog," ungkap Dony dalam acara The Forum yang digelar di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Baca Juga
Mentan Sebut Cadangan Beras RI Capai 5 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Menurutnya, situasi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas utama di tengah ketidakpastian geopolitik global. Ia menegaskan bahwa kedaulatan sebuah negara sangat bergantung pada kemampuannya memberi makan rakyatnya sendiri.
Klaim swasembada ini bukan tanpa dasar. Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada pekan lalu (23/4) mengumumkan capaian bersejarah. Untuk pertama kalinya, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menembus angka 5.000.198 ton, yang merupakan angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia berdiri.
Untuk menjaga momentum ini, Dony menjelaskan bahwa pemerintah tidak akan berhenti di sini. Beberapa langkah strategis terus dikebut, antara lain seperti program pencetakan sawah baru secara masif di berbagai wilayah.
Kemudian melakukan percepatan pembangunan dan penambahan kapasitas gudang penyimpanan agar penyerapan hasil panen tetap optimal. Selain itu BP BUMN juga mendorong Bulog sebagai penyangga pangan yang lebih kuat dan modern.
Dony menekankan surplus beras yang terjadi saat ini merupakan hasil dari langkah nyata, bukan sekadar janji politik. Transformasi di tubuh BUMN pangan dan sinergi antarlembaga diklaim menjadi kunci suksesnya serapan gabah petani.
“Dari sini kita semakin paham bahwa program presiden adalah bagaimana kita memiliki kekuatan di bidang pangan. Ini bukan sekadar wacana, tetapi sudah diwujudkan dalam langkah nyata,” paparnya.
Dengan stok yang melimpah, pemerintah optimistis ketergantungan terhadap impor beras dapat ditekan seminimal mungkin, sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen selama sisa tahun 2026.

