Akhir Pekan Rupiah Melemah ke Level Rp 16.458, Analis Minta Presiden Terpilih Turun Tangan
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (21/6/2024). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), mata uang Garuda ditutup di level Rp 16.458 per dolar AS, terdepresiasi 38 poin dari Rp 16.420 pada perdagangan kemarin.
Tidak jauh berbeda, dilansir dari Yahoo Finance, nilai tukar rupiah di pasar spot antarbank Jakarta hingga pukul 15.30 WIB melemah 30 poin ke level Rp 16.445 per dolar AS.
Selain terimbas penguatan dolar AS, menurut Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi, depresiasi rupiah ada kaitannya dengan sentimen domestik.
“Pelaku pasar terus memantau ketidakpastian arah kebijakan fiskal yang meningkatkan fiscal risk. Itu turut menjadi faktor yang memengaruhi pelemahan rupiah,” tutur Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (21/6/2024).
Baca Juga
Analis kurs itu juga menyinggung kondisi proyeksi defisit anggaran yang besar di kisaran 2,8% terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka itu mendekati batas atas level deficit, yakni 3% dari PDB.
Hal itu, kata Ibrahim, diperkuat oleh sejumlah narasi mengenai sikap pemerintah yang cenderung permisif terhadap utang. Bahkan sempat muncul rumor bahwa pemerintahan baru hendak menaikkan rasio utang pemerintah ke level 50% dari PDB. Namun isu tersebut telah dibantah juru bicara Prabowo-Gibran.
"Karena itu, pemerintahan mendatang di bawah presiden terpilih Prabowo Subianto harus secepatnya turun tangan menyampaikan komitmen terhadap disiplin fiskal agar naiknya risiko fiskal dapat ditekan dan tidak menciptakan sentimen negatif terhadap rupiah," tegas Ibrahim.
Ibrahim Assuaibi menjelaskan, rupiah tidak akan mengalami depresiasi berkepanjangan apabila pasokan dolar dari surplus neraca perdagangan mengalir ke pasar. “Pelemahan rupiah menjadi anomali karena hingga Mei 2024 Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan,” tandas dia.
Proyeksi The Fed
Sementara itu, para pejabat The Fed membiarkan kebijakannya tidak berubah pada pertemuan mereka pekan lalu. Pertemuan tersebut sekaligus membantah proyeksi sebelumnya untuk pemotongan suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) dari tiga perempat poin tahun ini menjadi satu. "Bahkan ketika inflasi telah mereda dan pasar tenaga kerja telah melemah," tutur Ibrahim.
Di sisi lain, kata Ibrahim Assuaibi, penjualan ritel Mei yang dirilis minggu ini tidak terlalu signifikan dan pasar tenaga kerja kemungkinan melemah. Jumlah orang AS yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran turun minggu lalu, namun masih lebih besar dari perkiraan.
Baca Juga
Meski Dolar AS Terlalu Tangguh, Gubernur BI Yakin Rupiah Akan Menguat
Berdasarkan data yang dirilis, Kamis (20/6/2024), pasar tenaga kerja tetap kuat meskipun terjadi penurunan bertahap. Data AS yang lemah baru-baru ini memperkuat spekulasi penurunan suku bunga The Fed sebanyak dua kali pada akhir tahun ini.
Untuk perdagangan Senin (24/6/2024) mendatang, Ibrahim memprediksi mata uang NKRI akan bergerak fluktuatif pada rentang Rp 16.440 - Rp 16.510 per dolar AS.
Bank Sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25-5,50% untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC), Kamis (13/6/2024). Di pihak lain, Bank Indonesia (BI) juga menahan BI-Rate di level 6,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (20/6/2024).
