Kumpulkan Menteri dan Kepala Lembaga, Jokowi Gelar Rapat Bahas Pelemahan Rupiah
JAKARTA, investortrust.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumpulkan menteri-menteri bidang perekonomian dan beberapa kepala lembaga untuk membahas nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto disusul Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa tiba di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (20/6/2024) sore, untuk mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Jokowi.
Kehadiran mereka disusul Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.
“Ya,” jawab Sri Mulyani singkat ketika wartawan menanyakan apakah ratas tersebut ditujukan untuk membahas pelemahan rupiah.
Baca Juga
Jelang Pengumuman RDG BI, Rupiah Ditutup di Level Rp 16.368/USD
Secara terpisah, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan pelemahan rupiah yang terus terjadi merupakan hal yang wajar mengingat perekonomian AS yang kian membaik diikuti dengan mata uang dolar AS yang juga menguat pada berbagai mata uang dunia.
“Kita monitor saja dinamika atau fluktuasi berbagai mata uang dunia (currency), US dolar menguat, karena ekonomi Amerika membaik,” kata Airlangga seusai konferensi pers Pengembangan King’s College London di Jakarta, Kamis (20/6/2024).
Sebagai informasi, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI rupiah ditutup di level Rp 16.368/USD, Rabu (19/6/2024).
Airlangga menyampaikan akan terus melakukan pengawasan terhadap pergerakan rupiah.
“Kita monitor saja, karena itu Bank Indonesia yang akan terus memonitor secara daily,” ujarnya.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19-20 Juni 2024 memutuskan mempertahankan suku bunga acuan, BI rate, sebesar 6,25%. Selain itu, suku bunga deposit facility dipertahankan sebesar 5,50% dan suku bunga lending facility sebesar 7,00%.
Baca Juga
Perry: BI Rate Dipertahankan 6,25%, Yakin Rupiah ke Depan Menguat
BI rate ini berada di level 6,25% sejak 24 April 2024. Sebulan sebelumnya masih bertengger di 6,00%.
“Keputusan ini konsisten dengan kebijakan moneter pro-stability sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1% pada 2024 dan 2025. Kebijakan ini didukung dengan penguatan operasi moneter untuk memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar rupiah dan masuknya aliran modal asing,” kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam pengumuman hasil rapat Dewan Gubernur BI Juni 2024, Jakarta, Kamis (20/6/2024).

