Ekonom BCA Prediksi Potensi Kenaikan BI Rate
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada esok hari (19/6/2024) hingga lusa (20/6/2024). Sejumlah pengamat hingga pelaku pasar berspekulasi tentang kebijakan Dewan Gubernur terkait arah suku bunga acuan atau BI Rate.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk David Sumual, melihat potensi kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps), meski belum dapat memastikan kapan kebijakan tersebut akan dilakukan. Saat ini BI Rate berada di posisi 6,25%.
Potensi tersebut, menurut David, didorong oleh sejumlah sentimen seperti momentum pertumbuhan yang melambat, ekspektasi pemotongan Fed fund rate (FFR) di masa depan hingga adanya strategi alternatif bank sentral seperti penerbitan Sertifikat Rupiah BI (SRBI) dan intervensi pasar valuta asing (valas).
Baca Juga
Manulife Aset (MAMI) Proyeksi BI Rate Ada di Kisaran 5,75% - 6,25% Akhir Tahun
"Sentimen itu menjadikan BI lebih enggan menaikkan suku bunga di luar dari periode tekanan yang ekstrem," kata David kepada Investortrust.id, Selasa (18/6/2024).
Ekonom BCA itu memandang saat ini inflasi relatif terkendali dengan memasuki masa panen raya. Adapun awal bulan ini Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pada Mei 2024 terjadi inflasi year on year (y-on-y) sebesar 2,84% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,37.
Namun saat ini situasi pasar menunjukkan nilai tukar (kurs) mata uang rupiah tengah mengalami tekanan dari menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (DXY). Menguatnya DXY salah satunya didorong oleh rilis data Kamis (13/6/2024) waktu setempat, yang menunjukkan harga produsen AS secara tak terduga turun pada bulan Mei, dengan indeks harga produsen (PPI) utama turun 0,2% bulan lalu setelah naik sebesar 0,5% yang tidak direvisi pada bulan April.
Baca Juga
Kemudian harga inti datar, setelah mengalami kenaikan 0,5% pada bulan sebelumnya. Hal ini terjadi setelah indeks harga konsumen (CPI) AS bulan Mei pada hari Rabu lebih lemah dari perkiraan para ekonom, sehingga mendorong aksi jual tajam pada greenback.
Jika digabungkan, rilis IHK dan PPI kemungkinan besar Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed, juga akan menunjukkan penurunan tekanan harga. Sehingga DXY kemungkinan masih akan relatif kuat dan fluktuatif.
"Sehingga upaya BI menjaga Rupiah lebih rumit terutama di tengah masih ditahannya suku bunga Fed," sambung David.

