Ekonom UI Prediksi BI Tahan BI Rate di 6,25%
JAKARTA, investortrust.id - Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan BI Rate di level 6,25%. Penetapan suku bunga acuan tersebut akan diumumkan hari ini oleh Bank Sentral.
"Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga acuan pada level 6,25% pada pertemuan Dewan Gubernur BI pada siang nanti," kata Riefky dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/6/2024).
Riefky menjelaskan, keputusan itu perlu diambil BI karena dinamika yang terjadi di domestik dan internasional. Dari dalam negeri, Riefky melihat terjadi penurunan inflasi secara tahunan (year on year/yoy). Inflasi pada Mei 2024 tercatat sebesar 2,84% secara tahunan.
"Penurunan inflasi sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya permintaan konsumen pasca-Idulfitri. Ini terlihat dari penurunan tingkat inflasi untuk kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau, yang turun menjadi 6,18% secara tahunan pada Mei 2024 dari 7,04% secara tahunan pada April 2024," kata dia.
Meski menurun, Riefky memberi catatan terhadap faktor dominan inflasi yang didorong oleh komponen harga bergejolak (volatile food). Pada Mei 2024, komponen ini mencatatkan inflasi tahunan sebesar 8,14%.
Ke depan, tekanan inflasi Indonesia diproyeksikan masih dipengaruhi inflasi impor karena rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Tren pelemahan ini menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan terhadap fluktuasi nilai tukar dan potensi dampaknya terhadap stabilitas harga secara keseluruhan.
"Selain itu, perkiraan datangnya La Nina di bulan Juli dan Agustus juga menimbulkan risiko lain yang berpotensi mengganggu sektor pertanian," ujar dia.
Dampak Kebijakan The Fed
Dari luar negeri, Riefky menyoroti keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunganya di antara 5,25% dan 5,75%, tidak berubah untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut. Sikap The Fed bergeser ke arah pandangan yang lebih konservatif terhadap penurunan suku bunga, dengan ekspektasi menjadi hanya satu kali penurunan sebelum Desember 2024.
"Penyesuaian ini mencerminkan pendekatan hati-hati mereka, mengingat angka inflasi yang terus-menerus melebihi target 2%," kata dia.
Pada Mei 2024, kata Riefky, inflasi AS menurun menjadi 3,3% secara tahunan, dari 3,4% secara tahunan pada April lalu. Penurunan didorong oleh harga bensin.
Meski terdapat tren penurunan, inflasi masih berada di atas target The Fed 2%. Sementara, pasar tenaga kerja di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu menunjukkan ketahanan, dibuktikan dengan peningkatan sebesar 272.000 pekerjaan di sektor nonpertanian. Ini menandai akselerasi yang signifikan dari kenaikan 165.000 di bulan April.
Namun, tingkat pengangguran pada Mei 2024 mengalami sedikit peningkatan menjadi 4%, naik dari 2,9% pada April 2024. Ini karena individu yang memasuki kembali angkatan kerja tidak langsung mendapatkan pekerjaan.
Riefky mengatakan terlepas dari momentum positif dalam penciptaan lapangan kerja dan moderasi inflasi baru-baru ini, The Fed tetap waspada di tengah lanskap ekonomi yang tidak menentu. Ini utamanya mempertimbangkan potensi risiko inflasi.
"Karena The Fed mempertahankan sikap hawkish-nya, modal berpindah dari pasar negara berkembang," ujar dia.
Arus Modal Keluar
Riefky mengatakan selama 17 Mei dan 14 Juni 2024, pasar obligasi dan pasar saham Indonesia mengalami arus modal keluar bersih sebesar US$ 0,32 miliar. Ini termasuk pembelian bersih asing sebesar US$ 0,29 miliar di pasar obligasi.
Sementara itu, catatan Riefky, pasar saham mengalami arus modal keluar sebesar US$ 0,61 miliar pada periode yang sama. Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 1 tahun dan 10 tahun meningkat 0,15 poin persentase, dengan imbal hasil obligasi bertenor 1 tahun meningkat dari 6,29% menjadi 6,44%, dan imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun meningkat dari 6,89% menjadi 7,04%.
Meski demikian, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah belum direspons investor asing. Investor asing hanya menyumbang sekitar 14% dari total konsumen pasar obligasi pemerintah RI.
"Kenaikan imbal hasil obligasi antara 17 Mei dan 14 Juni dapat dikaitkan dengan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat di negara-negara besar," kata dia.
Sementara itu, sejak pertengahan Mei dan pertengahan Juni ini, rupiah terdepresiasi sebesar 2,79% secara bulanan, turun dari Rp 15.950/US$ pada 17 Mei menjadi Rp 16.395/US$ pada 14 Juni.
Angka ini menandai level terendah sejak April 2020, saat awal pandemi Covid-19. Pelemahan rupiah terutama disebabkan penguatan dolar AS, yang telah berdampak pada mata uang global. Tren ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Beberapa mata uang Asia misalnya baht Thailand, ringgit Malaysia, dan won Korea Selatan, terdepresiasi terhadap dolar AS pada periode yang sama.
Secara year to date (ytd), rupiah telah terdepresiasi sebesar 7,07%. Data ini, kata dia, menunjukkan kinerja yang moderat dibandingkan dengan mata uang lainnya.
Terlepas dari tantangan tersebut, cadangan devisa Indonesia mengalami peningkatan sebesar US$ 2,8 miliar. Cadev naik dari US$ 136,2 miliar pada April 2024 menjadi US$ 138,97 miliar pada Mei 2024.
Peningkatan cadangan devisa ini didukung oleh penerbitan obligasi global, arus masuk ke pasar obligasi domestik, dan investasi di SRBI. Cadangan devisa Indonesia saat ini setara dengan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor ditambah dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah, yang secara signifikan melebihi standar internasional untuk kecukupan cadangan devisa yaitu sekitar tiga bulan impor.

