BPS Sebut Deflasi Mei Terjadi karena Perubahan Harga Komoditas
JAKARTA, investortrust.id - Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan terjadi deflasi 0,03% secara bulanan (month to month/mtm) pada Mei 2024, karena penurunan harga komoditas. Amalia membantah deflasi pada Mei 2024 terjadi akibat penurunan daya beli masyarakat.
“Enggaklah (karena daya beli). Ini (deflasi) karena fluktuasi harga,” kata Amalia, usai konferensi pers di kantornya, Jakarta, Senin (3/6/2024).
Dia mengatakan, deflasi Mei 2024 yang dilaporkan murni berdasarkan rekaman penurunan harga komoditas. Meski demikian, Amalia mengatakan, BPS tidak berhak menentukan apakah deflasi akibat tekanan daya beli masyarakat atau tidak.
“Jadi, ini memang karena ada perubahan harga komoditas yang kami hitung dari keranjang inflasi,” kata dia.
Baca Juga
Mei Surplus Beras
Amalia mengatakan, salah satu penyumbang deflasi yaitu beras. Dia mengatakan deflasi yang terjadi pada komoditas pangan ini sangat baik, dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
“Terlihat tekanan inflasi beras terus menurun di tiga bulan terakhir, karena panen raya pada April. Ini membuat Mei masih surplus beras,” ujar dia.
Ia juga memaparkan, produksi beras pada Mei 2024 mengalami penurunan. Pada Mei 2024, produksi beras tercatat sebesar 3,58 juta ton. Angka ini turun 32,5% dari produksi beras April 2024 yang mencapai 5,31 juta ton.
“Meskipun produksi beras mulai menurun, deflasi komoditas beras kembali terjadi karena ketersediaan stok yang masih memadai,” kata Amalia.
Baca Juga
Dalam catatan BPS, komoditas beras mengalami deflasi sebesar 3,59% dengan andil deflasi sebesar 0,15%. Secara umum, 29 provinsi mengalami deflasi beras, 1 provinsi stabil, dan 8 provinsi mengalami inflasi.

