BPS: Deflasi Biasa Terjadi Setelah Hari Raya Idulfitri
JAKARTA, investortrust.id - Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, deflasi bulanan (month to month/mtm) seperti yang terjadi pada Mei 2024 biasa terjadi setelah terjadi inflasi saat Hari Raya Idulfitri. Hal ini terjadi sejak tahun 2020.
“Terlihat secara historis, sejak 2020, pasca-Lebaran biasa terjadi deflasi. Terjadi deflasi bulanan sebesar 0,03% month to month (mtm) pada Mei 2024,” kata Amalia di kantornya, Jakarta, Senin (3/6/2024).
Baca Juga
Amalia mengatakan deflasi yang terjadi pada Mei 2024 karena penurunan harga secara umum pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok transportasi. Meski demikian, dia mengatakan, deflasi pasca-Llebaran 2024 tidak sedalam tahun-tahun sebelumnya.
“Sebagai contoh pada Juni 2021, di mana saat itu Lebaran terjadi pada 31 Mei. Pada bulan Juni berikutnya terjadi deflasi 0,16%” kata dia.
Deflasi Didorong Beras
Jika dilihat lebih rinci, kata Amalia, deflasi pada Mei 2024 didorong komoditas beras. Pada Mei 2024, beras mengalami deflasi sebesar 3,95%.
“Dan memberikan andil deflasi 0,15%. Meskipun produksi beras mulai menurun, deflasi komoditas beras masih terjadi karena stok masih memadai,” kata dia.
Baca Juga
Secara umum, kata Amalia, 29 provinsi mengalami deflasi beras. Satu provinsi stabil dan delapan provinsi mengalami inflasi beras.
“Kelompok lain yang berkontribusi kepada deflasi Mei 2024 adalah transportasi,” kata dia.
Kelompok transportasi kembali mengalami penurunan harga pada Mei 2024, setelah mengalami kenaikan harga pada momen Lebaran lalu. Tarif angkutan udara dan tarif kereta api pada Mei lalu mengalami deflasi terdalam sejak Januari 2021.
“Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi kedua terbesar pada Mei 2024, yang disebabkan penurunan harga komoditas tarif angkutan antarkota, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan kereta api,” kata dia.

