Ericsson: Jaringan 5G Berkontribusi Rp 659 Triliun ke PDB Indonesia 2024–2030
Head of Ericsson Indonesia Krishna Patil mengatakan, jaringan 5G akan memperkuat transformasi digital dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan Indonesia, dengan membantu menjembatani kesenjangan digital dan menciptakan lapangan kerja. “Jaringan 5G akan mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk menjadikan Indonesia pemimpin di kawasan ini,” katanya dalam acara Ericsson Imagine Live pada Senin (28/5/2024), di Four Seasons Hotel, Jakarta Selatan.
Hal tersebut mengacu pada laporan Global System for Mobile Communications Association (GSMA). GSMA menyebut pada 2024–2030 jaringan 5G diperkirakan akan berkontribusi lebih dari US$ 41 miliar Rp 659,89 triliun (asumsi kurs Rp 16.095 per US$) terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Baca Juga
Terus Berinvestasi di Indonesia
Sejalan dengan hal itu, Krishna mengatakan, Ericsson akan terus berinvestasi di Indonesia melalui kolaborasi teknologi jaringan 5G. Kolaborasi tersebut di antaranya adalah ujicoba non-standalone 5G pada 2021 dengan salah satu operator seluler di Tanah Air.
“Kami bangga menjadi yang pertama untuk mencoba jaringan pilihan di Indonesia pada 2021 dalam non-standalone 5G,”
Jaringan 5G non-standalone adalah jaringan 5G yang didukung oleh infrastruktur 4G yang ada. Dengan demikian, ponsel yang mendukung jaringan 5G akan terhubung ke frekuensi radio 5G, untuk mendapatkan kecepatan data yang lebih cepat tetapi masih menggunakan jaringan 4G.
Di sisi lain, Khrisna juga menyatakan Indonesia harus mempertimbangkan akses yang terjangkau bagi operator seluler ke spektrum frekuensi menengah (middle band). Pendekatan tersebut sudah memberikan hasil yang signifikan pada pengembangan jaringan 5G dan transformasi digital di banyak negara.
"5G akan memberdayakan Indonesia untuk mengembangkan potensi Industri 4.0. Selain itu, akan menjadi fondasi untuk mewujudkan agenda pemerintah menuju visi Indonesia Digital 2045," tandas Khrisna.
Baca Juga
Kemenkominfo Lelang Tiga Frekuensi ke Operator Seluler Tahun Depan, Bisa untuk 5G
Saat ini, spektrum frekuensi menengah di rentang 1-6 GHz dinilai pas untuk menggelar jaringan 5G. Spektrum frekuensi tersebut memiliki kelebihan tahan menghadapi cuaca ekstrem seperti hujan dan badai, walaupun cakupannya tidak seluas spektrum frekuensi rendah atau di bawah 1 GHz.

