Menkeu: PPh Nonmigas Berkontribusi Terbesar, Penerimaan Pajak Rp 624,19 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melaporkan penerimaan negara yang berasal dari pajak mencapai Rp 624,19 triliun, hingga akhir April lalu. Nilai ini setara 31,38% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024.
“Selain dari perpajakan, kami juga melaporkan penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai. Hingga akhir April 2024, penerimaan bea masuk berhasil terkumpul sebesar Rp 15,7 triliun, atau setara 27,4% dari target,” paparnya lewat keterangan yang dirilis di Jakarta, Selasa (28/5/2024).
Baca Juga
Penerimaan Pajak Turun, Rupiah Bergerak Melemah ke Rp 16.069/USD Hari Ini
Untuk bea keluar berhasil terkumpul sebesar Rp 5,8 triliun atau 33,0% dari target APBN. Sementara, penerimaan yang berasal dari cukai terkumpul sebesar Rp 74,2 triliun atau setara 30,2% dari APBN.
PPh Turun
Berdasarkan komponennya, lanjut Sri Mulyani, pajak penghasilan (PPh) nonmigas menyumbang pendapatan sebesar Rp 377,0 triliun atau 35,45% dari target. Angka tersebut dikatakan Menkeu masih cukup on track, meski secara bruto tumbuh negatif 5,43%.
Selanjutnya, pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) tercatat meraih pendapatan sebesar Rp 218,50 triliun atau 19,20% target. Ini diikuti PPh migas sebesar Rp 24,81 triliun atau setara 32,49%. Selain itu, pajak bumi dan bangunan (PBB) serta pajak lainnya mencapai Rp 3,87 triliun atau 10,27% dari target.
“PPh nonmigas turun, karena ada penurunan dari PPh tahunan. Ini terutama untuk korporasi atau badan,” ungkap Menkeu.
Baca Juga
Hari Ini, Revisi UU Kementerian Negara Bakal Diputuskan Jadi RUU Inisiatif DPR
Berdasarkan jenisnya, lanjut Sri, mayoritas jenis pajak utama tumbuh positif. Menkeu menyebut PPh 21 tumbuh di angka 41,4% atau naik tajam dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar 18,2%. Selanjutnya, pertumbuhan positif juga ditunjukan oleh penerimaan yang berasal dari PPh 22 Impor, PPh 26, dan PPh Final.Pertumbuhan ini sejalan dengan resiliensi aktivitas ekonomi nasional. Meski demikian, PPh badan masih mengalami kontraksi yang cukup dalam sebesar 29,1%.
“Untuk PPN kita masih melihat adanya pertumbuhan positif secara bruto, meski netonya kontraksi karena restitusi. Sedangkan untuk PPh final dan PPh 22 import lebih positif. Kami harapkan hal itu akan memberikan dampak yang positif pada perdagangan, dalam hal ini impor dan PPN kita,” tuturnya.
Selanjutnya, Menkeu juga menjelaskan sektor-sektor yang berkontribusi pada penerimaan pajak. Menkeu mengatakan bahwa mayoritas sektor utama tumbuh positif, yang menunjukan aktivitas sektoral yang terjaga.
“Perdagangan kita tumbuh positif 10,8%. Jasa keuangan dan asuransi masih tumbuh baik double digit 15,5%, baik bruto maupun neto. Namun, sektor pertambangan kita lihat kontraksinya tajam 48,6% untuk bruto, dan netonya kontraksi 63,8%,” tutur Menkeu.
Untuk sektor konstruksi dan real estate juga tumbuh positif sebesar 16,0%, sementara sektor transportasi dan pergudangan masih tumbuh meski mengalami koreksi dari tahun lalu yang tumbuh sangat tinggi yaitu 34,1% secara bruto, dengan neto 48,6%. Sedangkan sektor jasa perusahaan tumbuh positif 12,4%, diikuti sektor informasi dan komunikasi masih tumbuh kuat 19,2%.
"Kinerja penerimaan pajak pun akan dijaga agar terus tumbuh. Ini di antaranya melalui perluasan basis perpajakan dan penguatan ekstensifikasi pajak dan pengawasan," imbuhnya.
Peredaran Rokok Ilegal
Mengenai penerimaan negara yang berasal dari bea dan cukai, Kemenkeu berupaya meningkatkan. Hal ini misalnya dengan memberantas peredaran rokok ilegal.
“Untuk pencegahan rokok ilegal, DJBC terus melakukan penindakan. Sudah 4.000 penindakan dilakukan dan barang hasil penindakan itu ada 220 juta batang rokok, nilainya kira-kira Rp 311,3 miliar. Jadi, ini menggambarkan tatanan untuk cukai tidak hanya masalah mengumpulkan pendapatan, tapi juga ada enforcement yang cukup kompleks di lapangan,” tandas Menkeu.
Secara keseluruhan, lanjut dia, penerimaan negara terutama kepabeanan dan cukai tumbuh positif. Hal ini terutama didorong oleh penerimaan bea keluar.

