Utang Naik, Pemerintah Masih Andalkan Penerbitan SBN
JAKARTA, investortrust.id - Posisi utang Indonesia pada akhir Februari 2024 tercatat sebesar Rp 8.319,22 triliun, naik dari posisi bulan sebelumnya yang tercatat Rp 8.253,09 triliun. Pemerintah masih mengandalkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menutup defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Kenaikan posisi utang Indonesia sebesar 0,8% pada akhir Februari 2024 karena pemerintah kembali menarik utang. Hingga akhir periode akhir Februari 2024, pemerintah merealisasikan pembiayaan utang sebesar Rp 184,47 triliun atau 28,46% terhadap pagu tahun ini. “Ini terdiri atas realisasi SBN Rp 177,95 triliun dan realisasi pinjaman Rp 6,52 triliun,” tulis laporan Buku APBN KiTA edisi Maret 2024.
Baca Juga
Utang Pemerintah Hingga Akhir Februari Mencapai Rp 8.319,22 Triliun
Februari, 4 Kali Lelang SBN
Selama Februari 2024, pemerintah melakukan empat kali lelang SBN, yang terdiri dari dua kali lelang Surat Utang Negara (SUN) dan dua kali lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Lelang SBN pada Februari mencatatkan bid to cover ratio sebesar 2,21x.
“Rata-rata penawaran yang masuk sepanjang bulan pertama tahun 2024 sebesar Rp 43,42 triliun per lelang. Sedanngkan rata-rata nominal yang dimenangkan sebesar Rp 18,32 triliun per lelang,” tulis laporan itu.
Pada Februari 2024, pemerintah juga menetapkan hasil penjualan Obligasi Negara Ritel seri ORI025T3 (tenor 3 tahun) dan seri ORI025T6 (tenor 6 tahun) senilai total Rp 23,92 triliun. Kedua seri SBN ritel ini berhasil menarik minat investor baru, yaitu ORI025T3 sebanyak 18.568 (35,55% dari total investor ORI025T3) dan ORI025T6 sebanyak 4.014 (30,06% dari total investor ORI025T6).
“Penawaran ORI025T3 dan ORI025T6 juga menarik bagi investor milenial. Jumlah investor milenial mendominasi baik untuk ORI025T3 (45,97%) maupun ORI025T6 (53,52%)” tulis laporan itu.
Baca Juga
Pada saat konferensi pers APBN KiTa Maret 2024, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah kembali menarik utang sebesar Rp 72 triliun hingga 15 Maret 2024. Utang tersebut terdiri dari Rp 70,2 triliun untuk SBN dan Rp 1,9 triliun untuk pinjaman.
“Kami akan terus memperhatikan timing dan size dari issuance kita. Terutama, kita akan membuat beragam dari instrumen kita, sehingga APBN terjaga dari dinamika global dan nasional yang cukup tinggi,” kata Sri Mulyani.

