Dolar AS Menguat, Rupiah Ditutup Tergelincir ke 16.085/USD
JAKARTA, investortrust.id - Indeks dolar Amerika Serikat terpantau menguat dalam perdagangan awal pekan, Senin (13/5/2024). Menguatnya indeks dolar AS ini memaksa mata uang rupiah terdepresiasi dalam perdagangan di pasar spot valas
di Tanah Air.
Berdasar pantauan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah tergelincir 4 poin ke level Rp 16.085/USD pada penutupan perdagangan hari ini (13/5/2024). Sebelumnya, rupiah berada pada posisi Rp 16.081/USD, Rabu (8/5/2024) pekan lalu.
Sementara dalam pantauan perdagangan spot antarbank yang dilansir Yahoo Finance, mata uang rupiah hingga pukul 15.30 WIB berada di posisi Rp 16.075/USD. Ini melemah 36 poin dari posisi Rp 16.039/USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
"Melemahnya nilai tukar rupiah didorong oleh tren yang berlangsung sejak Rabu (8/5/2024) pekan lalu. Ini sebagai dampak dari pernyataan salah satu pejabat The Fed yang cenderung hawkish," kata Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede kepada Investortrust, Senin (13/5/2024).
Baca Juga
The Fed Ragu Turunkan Bunga, Kurs Rupiah Melemah ke Rp 16.077/USD
Potensi Menguat
Sebelumnya rupiah sempat menguat 0,24% week-to-week sepanjang Senin-Rabu pekan lalu. Sementara untuk pekan ini, Josua menyebut rupiah berpotensi menguat akibat prakiraan perlambatan inflasi AS.
"Pekan ini rupiah diprakirakan bergerak pada kisaran Rp 15.950-16.075 per dolar AS," kata Josua.
Sementara itu, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi melihat sebagian besar pedagang tetap bias terhadap greenback, menjelang data indeks harga produsen untuk April 2024 akan dirilis pada Selasa (14/5/2024) waktu setempat.
"Sedangkan data indeks harga konsumen yang lebih diawasi akan dirilis pada Rabu (15/5/2024) waktu setempat, yang akan menjadi fokus utama. Ini mengingat kemungkinan akan menjadi faktor dalam prospek suku bunga AS. Pada minggu lalu, dolar mengalami fluktuasi besar karena data perekonomian AS yang beragam memicu pertanyaan mengenai kapan bank sentral AS akan mulai memotong suku bunga tahun ini," kata Ibrahim dalam keterangan resminya, Senin (13/5/2024).
Meski perekonomian AS tampak melambat dalam beberapa bulan terakhir, Ibrahim menyebut, inflasi diperkirakan masih tetap stabil.
Inflasi Cina Naik
Sementara itu di Asia, inflasi indeks harga konsumen meningkat lebih dari perkiraan pada April 2024 di Cina. Ini karena langkah-langkah stimulus yang terus-menerus dari Beijing membantu meningkatkan permintaan.
Sementara itu di Asia, inflasi indeks harga konsumen meningkat lebih dari perkiraan pada April 2024 di Cina. Ini karena langkah-langkah stimulus yang terus-menerus dari Beijing membantu meningkatkan permintaan.
"Namun, inflasi indeks harga produsen menyusut selama 19 bulan berturut-turut. Hal ini karena aktivitas bisnis Cina masih lamban," ujar Ibrahim.
Data inflasi sendiri menunjukkan Beijing masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Para pedagang juga mewaspadai Cina, setelah laporan pekan lalu mengatakan pemerintahan Presiden AS Joe Biden sedang mempersiapkan lebih banyak tarif perdagangan terhadap negara tersebut, terutama pada sektor kendaraan listrik Tiongkok.
"Langkah ini dapat memicu kembali perang dagang antara negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia," tutur Ibrahim.
Selain itu, Bank Sentral Eropa telah menjanjikan penurunan suku bunga pada tanggal 6 Juni. Namun, terdapat ketidakpastian mengenai berapa banyak penurunan suku bunga lebih lanjut yang akan disetujui oleh bank sentral pada tahun ini. Ia mengungkapkan, pasar memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 70 basis poin untuk tahun ini.

