Perry: BI akan Dorong Kurs Rupiah di Bawah Rp 16.000/USD
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebutkan keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate merupakan keputusan yang tepat. Dengan membaiknya sejumlah sentimen, Perry optimistis upaya BI untuk menekan nilai tukar rupiah di bawah Rp 16.000/USD dapat tercapai.
Perry menjelaskan, saat ini nilai tukar rupiah dapat ditekan di rentang Rp 16.000/USD - Rp 16.100/USD. Sebelum keputusan menaikkan BI Rate, nilai tukar mata uang Garuda berada di kisaran Rp 16.300/USD.
"Kami percaya rupiah akan terus menguat sesuai fundamental yang kuat. Kami optimistis upaya BI untuk mendorong nilai tukar rupiah di bawah Rp 16.000/USD dapat tercapai, seiring kondisi pasar uang valas maupun perkembangan makroekonomi membaik," kata Perry dalam taklimat media, di Kantor BI Thamrin, Jakarta, Rabu (8/5/2024).
Buktikan Efektivitas Kebijakan
Perry menyebut, kondisi pasar uang valas maupun perkembangan makroekonomi setelah RDG periode 23-24 April 2024 bergerak membaik. "Ini membuktikan efektivitas kebijakan kita dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Perry.
Hal itu, lanjut dia, terbukti pada perkembangan positif di pasar uang keuangan RI. Secara keseluruhan dalam pekan pertama dan kedua bulan Mei 2024, terjadi aliran modal asing kembali masuk ke pasar dalam negeri senilai Rp 22,84 triliun.
Perry menyebut, Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mengalami inflow atau aliran masuk modal asing dengan total Rp 19,77 triliun. Aliran masuk modal asing SRBI di pekan pertama sejumlah Rp 16,9 triliun sedangkan pada pekan kedua sebanyak Rp 3,58 triliun.
Kemudian, Surat Berharga Negara (SBN) dalam dua pekan pertama bulan Mei 2024 juga mengalami inflow sebesar Rp 8,1 triliun. "Ini membuktikan investor menyambut baik kenaikan BI Rate dan kenaikan yield SRBI, sehingga perkembangannya lebih baik," sebut Perry.
Kemudian, Surat Berharga Negara (SBN) dalam dua pekan pertama bulan Mei 2024 juga mengalami inflow sebesar Rp 8,1 triliun. "Ini membuktikan investor menyambut baik kenaikan BI Rate dan kenaikan yield SRBI, sehingga perkembangannya lebih baik," sebut Perry.
Seiring masuknya dana asing ke pasar valas dalam negeri, ada tren menguatnya stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Ini terjadi setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI periode 23-24 April 2024 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6,25%. Kenaikan ini menjadi yang pertama, setelah BI mempertahankan suku bunga acuan sebesar 6,0% sejak Oktober 2023.

