Rupiah Dibuka Melemah, Komentar Pejabat The Fed Jadi Penyebab
JAKARTA, investortrust.id - Mata uang rupiah bergerak melemah dalam pembukaan perdagangan nilai tukar (kurs) Rabu (8/5/2024). Dalam perdagangan spot antarbank, dilansir dari Yahoo Finance, hingga pukul 09.15 WIB rupiah bergerak melemah 45 poin terhadap indeks dolar Amerika Serikat (AS) menuju level Rp 16.084/USD usai berada pada posisi Rp 16.039/USD kemarin (7/5/2024).
Analis yang sekaligus Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyebut komentar sejumlah pejabat The Fed mengenai jalur suku bunga menjadi fokus sentimen dalam sepekan. Terutama setelah data nonfarm payrolls yang lebih lemah dari prakiraan membuat pelaku pasar mulai memprakirakan penurunan suku bunga acuan oleh The Fed.
"Namun gagasan ini tidak memberikan banyak dukungan terhadap mata uang Asia, mengingat The Fed masih diperkirakan akan mulai menurunkan suku bunganya pada bulan September," kata Ibrahim dalam keterangan resminya.
Presiden Fed Richmond Thomas Barkin mengatakan tingkat suku bunga saat ini cukup membatasi untuk mendinginkan perekonomian sehingga membawa inflasi kembali ke target bank sentral sebesar 2%. Kalender ekonomi minggu ini sepi, disorot oleh pembacaan sentimen konsumen dari University of Michigan pada hari Jumat, sementara sejumlah pejabat Fed akan menyampaikan pidatonya, termasuk Gubernur Fed Lisa Cook dan Michelle Bowman pada akhir minggu ini.
Sementara dari dalam negeri Kementerian Keuangan (Kemenkeu) merilis posisi utang pemerintah mencapai Rp 8.262,10 triliun per akhir Maret 2024, atau setara dengan 38,79% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Posisi utang tersebut menurun jika dibandingkan dengan posisi pada Februari 2024 yang tercatat sebesar Rp 8.319,2 triliun, setara dengan 39,06% terhadap PDB.
Sedangkan rasio utang pada Maret 2024 terjaga di bawah batas aman 60% PDB sesuai UU No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara serta lebih baik dari yang telah ditetapkan melalui Strategi Pengelolaan Utang Jangka Menengah tahun 2024-2027 di kisaran 40%. Jika dirincikan, mayoritas utang pemerintah per akhir Maret 2024 berasal dari dalam negeri dengan proporsi sebesar 71,52%.
"Hal ini sejalan dengan kebijakan umum pembiayaan utang untuk mengoptimalkan sumber pembiayaan dalam negeri dan memanfaatkan utang luar negeri sebagai pelengkap," tutur Ibrahim.
Dalam perdagangan kurs hari ini Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif dan ditutup menguat pada rentang Rp 16.000/USD - Rp 16.080/USD.

