BI Rate Naik, Pemerintah Perbaiki Iklim Investasi dan Bank Diminta Tahan Bunga
JAKARTA, investortrust.id – Untuk meredam dampak penaikan BI Rate terhadap inflasi, pemerintah akan memperbaiki iklim investasi. Selain itu, perbankan diminta bisa menahan suku bunga kredit tetap.
“Stimulus sudah banyak diberikan pemerintah kepada pengusaha seperti tax holiday dan tax allowance. Pengusaha ‘kemarin’ lebih concern iklim usaha diperbaiki, kami pun sudah akan merevisi PP No 55 mengenai perizinan itu. Mungkin revisi selesai Mei depan,” kata Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso ketika dihubungi Investortrust.id di Jakarta, Sabtu (27/4/2024) pagi.
Baca Juga
PP yang dimaksud Sesmenko Susiwijono tersebut adalah Peraturan Presiden No 55 Tahun 2022 tentang Pendelegasian Pemberian Perizinan Berusaha di Bidang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Pria yang akrab dipanggil Susi ini juga optimistis inflasi tetap terkendali sesuai sasaran Bank Indonesia 2,5% plus minus 1% tahun ini. Pada Maret 2024, inflasi naik ke 3,05% year on year, namun menurut dia, pada Maret lalu sudah mulai panen raya padi sehingga ke depan inflasi turun.
Jangan Picu NPL
Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Ryan Kiryanto mengingatkan perbankan agar tidak tergoda menaikkan suku bunga kreditnya. Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan, BI Rate, dari 6% ke 6,25% untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“BI tepat menaikkan suku bunga karena indeks dolar tinggi --sudah di atas 105-- dan ada peningkatan tensi geopolitik di Timur Tengah. Mata uang lain juga melemah terhadap dolar AS, bahkan yen saja melemah 8% year to date. Jadi, bank lebih baik menahan suku bunga kredit, ketimbang debitur nanti menjadi tidak mampu membayar bunga yang dinaikkan. Kalau bunga kredit naik malah jadi kredit bermasalah (non-performing loan),” ujarnya kepada Investortrust.id di Jakarta, Sabtu (27/4/2024) pagi.
Baca Juga
Jika tidak ada kejadian luar biasa ke depan yang menimbulkan ketidakpastian tinggi, Ryan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa 5,0-5,1%. Ekonomi ini masih bagus.
“Proses politik (pilpres) sudah selesai, jangan ribut ke depan. Apalagi masih ada Perang Teluk dan Perang Ukraina-Rusia, yang menjadi sentimen negatif,” tandasnya.

