Target Defisit RABPN 2024 Lebih Rendah, Bahana TCW: Peringkat Utang Indonesia bakal Naik
JAKARTA, Investortrust.id – Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) memperkirakan Indonesia berpotensi mencatatkan rating outlook upgrade. Hal ini terlihat dari keputusan pemerintah menjaga postur Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2024 dengan defisit anggaran rendah.
Baca Juga
IHSG Bisa Ke 7.450 Akhir Tahun, 10 Saham Ini Jadi Pilihan Teratas
“Target defisit RAPBN 2024 jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan dalam UU Keuangan Negara dan prasyarat yang ditetapkan lembaga pemeringkat S&P untuk mendapatkan rating upgrade dengan defisit di bawah 3,0% dari PDB,’’ papar Ekonom Bahana TCW Emil Muhamad di Jakarta, Senin (21/8/2023).
Dengan postur anggaran seperti ini, dia mengatakan, terbuka peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan rating outlook upgrade, apabila anggaran tahun 2024 dapat direalisasikan dengan disiplin.
Pemerintah menetapkan postur anggaran tahun 2024 dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibanding tahun ini. Pemerintah akan menjaga defisit anggaran sebesar 2,29% atau Rp 486,4 triliun dari produk domestik bruto (PDB). Angka ini lebih rendah dari ekspektasi pasar dengan perkiraan 2,64% atau Rp 598,2 triliun dari PDB.
Baca Juga
Presiden: Segera Akhiri Sejarah 400 Tahun Eksportir Bahan Mentah
Pada awal Juli 2023, Standard and Poor’s (S&P) mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada BBB dengan outlook stabil, dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi yang solid, rekam jejak kebijakan yang baik dan konsolidasi fiskal yang lebih cepat dari target awal.
Outlook stabil mencerminkan keyakinan S&P terhadap keberlanjutan pemulihan ekonomi Indonesia dalam dua tahun kedepan, yang akan mendukung kinerja fiskal dan stabilisasi utang.
Konsolidasi Fiskal
Emil mengatakan, penurunan target defisit tersebut juga menggambarkan keberhasilan perseroan merealisasikan konsolidasi fiskal yang lebih cepat dari target awal. Penurunan ini juga ditopang oleh pendapatan negara, baik pajak maupun non-pajak, diprediksi lebih tinggi dari belanja pemerintah. Meski pemerintah selama paruh pertama tahun ini mampu membiayai pertumbuhan ekonomi melalui belanja pemerintah.
Selain S&P, lembaga pemeringkat internasional lainnya seperti Moody’s dan Fitch Rating belum memberikan perubahan terhadap rating Indonesia. Fitch terakhir kali memberikan Indonesia rating BBB dengan outlook stabil pada Desember 2022. Sedangkan Moody’s masih memberi peringkat Baa2 dengan outlook stabil pada Februari 2022.
Baca Juga
Sejalan dengan penurunan defisit, pemerintah juga akan menekan keseimbangan primer ke kisaran Rp 25,5 triliun atau -0,1% dari PDB pada 2024, dari target sebesar Rp 49 triliun atau -0,2% dari PDB untuk sepanjang tahun ini. Sedangkan rasio utang terhadap PDB, dijaga stabil pada kisaran 39% dari PDB.
“Rasio utang ini lebih rendah dibandingkan peers BBB rating, artinya pemerintah memiliki komitmen yang kuat menjaga keberlanjutan fiskal,’’ ungkap Emil.
Defisit anggaran yang rendah, tentunya akan berpengaruh terhadap rencana penerbitan surat berharga negara (SBN) yang tetap terjaga sepanjang tahun depan. Hal ini mengindikasikan SBN masih akan menjadi pilihan investasi yang menarik hingga tahun depan.
Dalam RAPBN 2024, pemerintah menetapkan asumsi yield SBN 10 tahun sekitar 6,7%, lebih rendah dari tahun ini, yang ditetapkan sebesar 7,9%. Nilai tukar rupiah diperkirakan pada kisaran Rp 15.000, lebih baik dari asumsi sepanjang tahun ini sekitar Rp 15.100. Penurunan ini menunjukkan berkurangnya risiko ketidakpastian perekonomian global di mata pemerintah, meskipun kedua angka tersebut konservatif.

