Menkeu Paparkan Instrumen Fiskal untuk Tangani Perubahan Iklim
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memaparkan sejumlah langkah untuk mengatasi persoalan perubahan iklim, lewat pembiayaan fiskal dan strategi keuangan. Strategi tersebut, antara lain, dengan menerbitkan green bond yang dikombinasikan dengan sukuk. Sejak 2018, pemerintah telah menerbitkan US$ 5 miliar Global Green Sukuk.
“Kita mengembangkan instrumen fiskal dan keuangan di dalam meng-address isu climate change. Di dalam negeri, kita mengenalkan Retail Domestic Green Sukuk yang diterima secara luas oleh generasi muda. Rp 21,8 triliun sudah kita issued,” ujar Sri Mulyani saat menghadiri Climate Change and Indonesia’s Future: An Intergenerational Dialogue, Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Senin (27/11/2023).
Baca Juga
Sri Mulyani menyebut, penerbitan green bond tersebut berkaitan dengan penurunan emisi. Indonesia, kata dia, menurunkan 5,7 juta ton CO2e pada 2018. Pada 2019, penurunan sebanyak 3,2 juta ton CO2e dan pada 2020 1,4 juta ton CO2e. Sedangkan penurunan di 2022 sebanyak 202.674 ton CO2e.
Kerja Sama Pendanaan Terintegrasi
Selain green bond, alternatif pendanaan untuk mendukung perubahan iklim juga dilakukan melalui kerja sama pendanaan terintegrasi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) di Indonesia, yakni SDG Indonesia One. “Entah menggunakan equity financing, debt financing, atau risk at project preparation,” ujar Menkeu.
Baca Juga
Anomali, Sektor Kehutanan Justru Penyumbang Emisi Karbon Tertinggi
"Indonesia juga mendapat green climate fund (GCF) sebanyak US$ 486,13 juta, yang terbagi atas 23% bersifat ekuitas, 26% bersifat dana pinjaman, dan 35% bersifat dana hibah. Akan ada instrumen yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan perubahan iklim. Untuk itu, kami akan terus bekerja sama dan membuka diri, karena climate agenda without financing hanya akan menjadi agenda, hanya akan menjadi dream. Financing is one of the most critical element dari climate agenda,” ucap dia. (CR-7)

