Produksi Rokok Turun, Penerimaan Cukai Turun
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, penerimaan cukai hingga Oktober 2023 tercatat sebesar Rp 169,8 triliun atau 69,2% APBN dan menurun dibanding periode sama tahun lalu.
“Cukai yang kita terima ada dua komoditas, yaitu rokok tembakau dan MMEA (minuman mengandung etil alkohol)” kata Sri Mulyani saat paparan APBN Kita, Jumat (24/11/2023).
Menurut Sri Mulyani, cukai dari rokok telah terkumpul Rp 163,2 triliun atau 70,2% total target APBN. Menurut dia, penerimaan cukai hasil tembakau (CHT) turun 4,3% secara tahunan (year on year/yoy). “Karena kita memang menaikkan tarif dan menyebabkan turunnya produksi SKM dan SPM Golongan 1,” ucap dia.
Sementara itu, penerimaan cukai MMEA tumbuh 0,6% menjadi Rp 6,3 triliun atau 72,9% dari target APBN. Pertumbuhan ini didorong peningkatan produksi 0,4%. “Juga didorong oleh pulihnya industri pariwisata,” kata dia.
Secara total, penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 220,8 triliun, atau 72,8% dari target APBN.
Bea masuk mengalami pertumbuhan sebesar 1,8% yoy atau Rp41,4 triliun, meskipun kinerja impor terkontraksi -7,8% yoy. Penerimaan bea masuk yang tumbuh tipis karena adanya kurs dolar yang menguat dan tarif efektif yang naik menjadi 1,4%.
“Untuk impor yang cukup banyak yaitu dari kendaraan roda empat juga impor beras, dan suku cadang dan mesin untuk penambangan,” ujar dia.
Adapun bea keluar mengalami kontraksi dalam sebesar -74,4% yoy. Sehingga bea keluar pada Oktober 2023 tercatat Rp9,7 triliun atau 94,7% dari target APBN. “Ini karena komoditas-komoditas (ekspor) mengalami penurunan cukup tinggi. Seperti CPO, tembaga, dan bauksit,” kata Bendahara Negara.
Untuk itu, Sri Mulyani memprediksi pendapatan bea keluar untuk tahun ini tidak akan tinggi. “Karena adanya koreksi harga komoditas yang penting terhadap kontributor bea keluar,” ujar dia. (CR-7)
Baca Juga
Eks Kepala Bea Cukai Makassar Didakwa Terima Gratifikasi Rp 58,8 M

