Utang Luar Negeri Indonesia US$ 400,9 Miliar, Analis Ini Sebut Kategori Aman
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mencatatkan peningkatan utang luar negeri Indonesia menjadi US$ 400,9 miliar hingga November 2023. Angka tersebut menunjukkan peningkatan sektiar 2% (m-to-m) atau 0,7% (YoY).
Berdasar rilis dari BI pertumbuhan utang luar negeri Indonesia dipengaruhi sejumlah faktor, seperti kenaikan transaski pada sektor publik. Peningkatan juga dipengaruhi atas pelemahan mata uang dolar AS terhadap rupiah.
Melihat hal tersebut, Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual memandang, utang luar negeri level US$ 400 miliar memang tergolong besar, tetapi masih dikategorikan aman.
Baca Juga
Dia mengatakan, pertumbuhan utang luar negeri dapat disandingkan dengan peluang ekonomi suatu negara. Tidak selalu utang luar negeri diasosiasikan negatif. "Jadi tidak berarti utang luar negeri selalu buruk. Investasi asing tidak selalu dalam bentuk equity, ada juga termasuk utang luar negeri," ungkap David kepada Investortrust, Senin (15/01/2024).
Chief Economist PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual
Ekonom BCA juga tersebut melihat pertumbuhan utang luar negeri Indonesia tidak sebesar periode-periode sebelumnya.
"Angka US$400,9 miliar memang terlihat besar, namun tren peningkatan relatif kecil. Bandingkan dengan tahun 2010-2014, terjadi trend booming komoditas, pembiayaannya tidak selalu dari equity. Hal serupa juga terjadi pada periode 2015-2020, investasi terhadap pembangunan infrastruktur," terang David.
Selain itu, David juga melihat terdapat kecenderungan peningkatan utang luar negeri pemerintah untuk mengamankan pembiayaan di tahun 2024.
Baca Juga
Utang Luar Negeri Indonesia Makin Bertambah, Tembus US$ 400,9 Miliar
Ia juga menilai bahwa negara-negara luar tidak akan sembarangan mengucurkan utang, apabila tidak ada underline pembayaran yang jelas. "Kemudian kita lihat juga posisi utang luar negeri November 2023 yang mengalami kenaikan besar terdapat pada sektor publik," tuturnya.
Kepada Investortrust David juga menyinggung perlunya melihat debt to export ratio, atau rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). "Yang terpenting jangan sampai ekspor turun. Sedikit masalah karena mayoritas ekspor Indonesia adalah komoditas yang tidak sustain," terang David.
Dia mendorong agar pemerintah terus menggenjot potensi ekspor. Tidak hanya itu, penting agar pemerintah dapat memperluas potensi ekspor terhadap komoditas yang sustainability atau berkepanjangan.

