Ekspor 2024 Diprediksi Belum Pulih, BI Dorong Stimulus Penguatan Pasar Domestik
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) memperkirakan berlanjutnya perlambatan kinerja ekspor Indonesia pada 2024. Hal ini dipicu belum pulihnya ekonomi global.
"Kinerja ekspor diproyeksikan belum kuat sebagai dampak ekonomi global yang belum kuat dan harga komoditas yang menurun," kata Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, dikutip dari laman resmi BI, Selasa (06/02/2024).
Baca Juga
Melihat skenario tersebut, Erwin mengatakan, BI akan memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam memberikan stimulus fiskal. Stimulus yang diberikan berupa stimulus makroprudensial BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. "Khususnya dari sisi penerimaan domestik," ujar dia.
Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal-IV 2023 tercermin dari tumbuhnya komponen PDB. Konsumsi rumah tangga, misalnya tumbuh 4,47% (yoy) seiring kenaikan mobilitas utama pada Natal dan Tahun Baru.
Baca Juga
Ekonomi RI Diramal Cerah, Menko Airlangga Optimistis Tren Pertumbuhan Berlanjut
Sementara itu, komponen konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNMRT) tumbuh di angka 18,11% (yoy) didorong aktivitas persiapan pemilu. Konsumsi pemerintah juga tumbuh sebesar 2,81% untuk belanja barang dan pegawai.
"Investasi tumbuh sebesar 5,02% (yoy) terutama ditopang investasi bangunan seiring berlanjutnya pembangunan infrastruktur dan meningkatnya aktivitas penanaman modal," ujar dia.
Kinerja ekspor
BI, kata Erwin, masih mampu memberikan sumbangsih terhadap pertumbuhan ekonomi pada 2023. Ekspor mampu menyumbang 1,64% (yoy) bagi pertumbuhan ditopang permintaan mitra dagang utama.
"Di tengah penurunan harga komoditas ekspor unggulan, serta membaiknya ekspor jasa seiring dengan peningkatan jasa seiring dengan jumlah wisatawan mancanegara," ujar dia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat permintaan barang dari mitra dagang utama, seperti Amerika Serikat, China, Jepang, dan India terjadi karena pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara pada kuartal-IV 2023.
Baca Juga
Perry Warjiyo Sebut Ekonomi Dunia Sedang Mengalami Fragmentasi dan Perubahan Siklus, Apa Maksudnya?
"Ini mengindikasikan permintaan barang ekspor masih cukup kuat untuk menopang kinerja perekonomian kuartal-IV 2023 maupun sepanjang 2023," kata Plh Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, Senin (05/02/2024).
BPS mencatat kinerja ekspor 2023 mencapai US$ 258,2 miliar, turun 11,33% dibanding 2022 yang mencapai US$ 291,9 miliar. Ekspor migas mencapai US$ 15,92 miliar dan nonmigas sebesar US$ 240,9 miliar.

