Volatilitas Pasar Saham Domestik Diprediksi Berlanjut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan volatilitas pasar saham domestik masih berlanjut seiring meningkatnya ketidakpastian global. Risiko geopolitik yang memanas, lonjakan harga energi, serta pergerakan arus dana asing yang belum stabil menjadi faktor utama yang menekan sentimen pasar.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto mengatakan, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah telah memicu kenaikan harga minyak dunia sekaligus memperbesar ketidakpastian di pasar keuangan global.
Harga minyak Brent melampaui US$ 100 per barel setelah melonjak sekitar 35% dalam sepekan pada pekan pertama. Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global, termasuk risiko terganggunya jalur pengiriman tanker di Selat Hormuz.
Baca Juga
Sempat Melesat 2,2% Intraday, IHSG Sesi I Akhirnya Ditutup hanya Naik 0,71%
“Level harga minyak saat ini mencerminkan premi risiko geopolitik yang besar. Jika gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama, harga minyak akan berada di atas level US$ 100 per barel dalam waktu yang lebih lama, yang pada akhirnya dapat meningkatkan tekanan inflasi global, mempersempit ruang pelonggaran moneter, dan memicu risiko stagflasi,” kata Rully dalam media day secara daring, Selasa (10/3/2026).
Kenaikan harga minyak yang terlalu cepat, menurut Rully Arya, berpotensi menahan proses penurunan suku bunga global sekaligus memberikan tekanan terhadap pasar saham, termasuk di negara emerging markets seperti Indonesia.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada sesi I, Selasa (9/3/2026) siang, ditutup menguat 52,15 poin (0,71%) ke level 7.389,52. Secara intraday, IHSG sempat naik 162 poin (2,2%) dalam rentang 7.337-7.499 dengan nilai transaksi Rp 10,16 triliun.
Penguatan IHSG terjadi sejalan dengan kenaikan mayoritas pasar saham di Asia. Sektor penopang IHSG siang ini yaitu saham material dasar yang naik 3,08%, sektor industri menguat 2,49%, sektor konsumer primer naik 1,47%, sektor properti meningkat 1,11%, dan sektor keuangan menanjak 0,47%. Sebaliknya saham sektor energi melemah 0,16%. Adapun saham penolang IHSG di antaranya saham-saham big cap, seperti AMMN, ASII, TINS, GGRM, INKP, TKIM, dan PTRO,
Rully Arya menambahkan, sejumlah saham berbasis komoditas masih mencatatkan minat beli dari investor asing, di antaranya ITMG, PTBA, dan BRMS.
Sementara itu, Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Farras Farhan menilai sektor batu bara masih menunjukkan daya tahan relatif di tengah tren penurunan harga komoditas.
Baca Juga
IHSG Dibuka Rebound Signifikan 1,44%, Saham Big Cap Ini Melesat
Dalam riset terbarunya, Farras mengungkapkan, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menorehkan kinerja yang lebih solid pada kuartal IV-2025 dengan pendapatan mencapai US$512 juta. Pencapaian ini didorong peningkatan volume penjualan menjadi 6,8 juta ton serta kenaikan harga jual rata-rata ke level US$75 per ton.
“Kinerja ITMG menunjukkan bahwa disiplin biaya dan efisiensi operasional dapat membantu perusahaan mempertahankan profitabilitas meskipun harga batu bara sedang berada dalam fase penurunan,” ucap Farras.
Ia menambahkan, sektor komoditas berpotensi menjadi salah satu penopang pasar saham domestik ketika volatilitas global meningkat, mengingat sektor ini umumnya memiliki arus kas yang kuat serta masih ditopang oleh permintaan global.

