Perang Dagang AS-China Berdampak ke Ekspor, Bos Toyota Dorong Penguatan Pasar Domestik
JAKARTA, investortrust.id - Wakil Presiden PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMIIN) Bob Azam menilai perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan China akan berdampak pada sektor industri padat karya, khususnya pada ekspor otomotif.
Bob Azam menjelaskan, perang dagang AS-China akan berdampak pada tax barrier atau hambatan tarif. Kondisi tersebut akan melemahkan perekonomian dunia, inflasi, hingga menyebabkan kenaikan harga.
"Akibatnya ekspor padat karya kita ke Eropa juga turun gratis," ucap Bob kepada awak media di Jakarta, Rabu (19/3/2025).
Baca Juga
Perang Dagang Bikin Status Bitcoin Sebagai Aset Safe Haven Diragukan?
Menurut Bob Azam, di tengah masalah konflik perdagangan yang terjadi antara AS dan China, negara-negara lain saat ini tengah menggencarkan permintaan dalam negeri untuk meningkatkan perekonomian, khususnya industri otomotif.
"Oleh karena itu banyak negara sekarang yang berorientasi kepada permintaan dalam negeri. Ekspor mereka mungkin sudah enggak terlalu, tapi dalam negeri," terangnya.
"Bagaimana seperti Vietnam kan dia menurunkan PPn-nya, kemudian Malaysia terus masih memberikan insentif. Jadi untuk bergantung kepada ekspor tuh berat dalam situasi saat ini," imbuh Bob Azam.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan strategi pemerintah dalam menghadapi perang dagang dunia, apalagi dengan periode kedua kepemimpinan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).
Baca Juga
Intip Strategi Toyota Indonesia Menuju Netralitas Karbon di Semua Lini Bisnis
Menko Airlangga menyebutkan, dalam menghadapi kebijakan Trump periode kedua Indonesia harus melihat potensi perdagangan seluruh dunia. Salah satunya adalah memaksimalkan Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA).
"Kita harus melihat perdagangan ke seluruh dunia, itu world trade itu di luar Amerika kalau enggak salah 83%. Jadi kita harus menjalin kerja sama dengan 83% dunia. Oleh karena itu, arahan Bapak Presiden kemarin, seperti dalam pidato beliau, itu kita harus memaksimalkan CEPA.," ucapnya di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (20/2/2025).

