Depresiasi Rupiah Bisa Buat Ibu Rumah Tangga dan UMKM Sulit Atur Keuangan
JAKARTA, investortrust.id - Kepala Pusat Digital dan UMKM, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eisha Maghfiruha mengatakan menyebut tekanan dolar Amerika Serikat (AS) ke rupiah dapat membuat perempuan kesulitan mengatur keuangan.
“Ini (dampak merosotnya rupiah) kalau membuat harga-harga di pasar naik, (perempuan) bisa teriak-teriak,” kata Eisha, dalam diskusi yang digelar INDEF secara daring, Sabtu (20/4/2024).
Eisha mengatakan dari sisi perempuan sebagai konsumen dan pelaku usaha, tekanan dolar AS terhadap rupiah ini dapat menaikkan harga komoditas bahan pokok impor, dan pada ujungnya harga di tingkat konsumen dapat melambung.
Baca Juga
Indef Ingatkan APBN Tak Digerus untuk Program Makan Siang Gratis, Ini Alasannya
“Terdapat barang konsumen yang masih diimpor, seperti beras, tempe karena kacang kedelainya impor dan lain-lain,” kata dia.
Dari sudut pandang perempuan pelaku UMKM, tekanan dolar AS mengakibatkan kenaikan harga-harga masukan. Ini karena pelaku UMKM saat ini banyak berposisi sebagai penjual ulang (reseller) yang mengambil produknya dari barang-barang luar negeri.
“Bisa memberikan dampak ke biaya produksi sehingga biaya produk meningkat,” kata dia.
Untuk itu, Eisha menyarankan perempuan pelaku UMKM untuk terus meningkatkan daya saing produknya. Sebab, berkaca pada kondisi krisis moneter 1998, UMKM sejatinya dapat bertahan karena menggunakan sumber daya dalam negeri. “Sehingga waktu itu yang mampu bertahan (di saat krisis) adalah UMKM,” kata dia.

