Rupiah Melemah Tipis setelah BI Pertahankan Bunga
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah melemah tipis terhadan USD dalam penutupan perdagangan spot antarbank, Rabu (20/3/2024). Rupiah tergelincir tepat setelah Dewan Gubernur Bank Indonesia mempertahankan BI Rate atau suku bunga acuan, di level 6,0%.
Pada penutupan sore ini, mata uang Garuda tergelincir tipis 6 poin ke level Rp 15.723 per USD. Pada penutupan hari sebelumnya, kurs rupiah tercatat Rp 15.717 per USD.
Berdasarkan data kurs Jisdor yang dirilis BI sore ini, rupiah melemah ke level Rp 15.727 per USD. Rupiah tercatat melemah 15 poin dari perdagangan kemarin yang berada di posisi Rp 15.712 per USD.
Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede menilai mata uang Garuda bergerak sideways pada perdagangan hari ini, di tengah sentimen investor yang cenderung menunggu hasil rapat FOMC di Amerika Serikat. "Kecenderungan ini terefleksi dari pergerakan mata uang Asia lainnya. Sebagian besar mata uang Asia cenderung bergerak dalam range yang terbatas, kecuali dolar Taiwan, peso Filipina, dan yen Jepang," ujarnya kepada Investortrust, Rabu (20/3/2024).
Baca Juga
Sementara itu, ia menilai BI tidak melihat adanya dampak besar dari kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ), yang keluar dari zona suku bunga negatif, pada pasar keuangan Indonesia. Outflow dana asing dan dolar AS yang kuat, lanjut dia, masih karena sentimen terkait arah kebijakan Bank Sentral AS, The Fed. "BI melihat dampak perubahan kebijakan BoJ hampir tidak ada bagi Indonesia, tertutup dari dampak ketidakpastian dari The Fed," tutur Josua.
Pemotongan FFR Semester II
Sementara itu Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI baru saja memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 6,00%. Hal ini menurut Josua sejalan dengan usaha BI untuk menjaga stabilitas moneter.
Baca Juga
BI juga masih melihat pemotongan Fed Funds Rate (FFR) akan terjadi pada semester II-2024. Josua menyebut, The Fed akan cenderung bersabar dalam melakukan pemotongan suku bunga acuannya, meski pasar memprediksi FFR akan turun pada medio Juni 2024.
"Sehingga, masih akan ada gejolak di pasar keuangan dalam jangka pendek," kata Josua.

