Kekuatan Fundamental Menahan Gejolak Suku Bunga
Oleh: Teuku Riefky (Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI) dan Tim Peneliti LPEM FEB UI
Tren kenaikan suku bunga di negara maju memicu pelarian modal dan menekan kurs rupiah. Namun kondisi fundamental makroekonomi masih kuat, sehingga tidak ada alasan Bank Indonesia menaikkan suku bunga.
Data inflasi yang baru dirilis oleh Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa inflasi tahunan Agustus naik sedikit setelah mengalami penurunan selama lima bulan berturut-turut, namun masih berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI). Tingkat inflasi tahunan dilaporkan sebesar 3,27% (yoy), naik 0,19 poin persentase dibandingkan Juli sebesar 3,08%.
Namun, perlu diperhatikan bahwa tercatat deflasi bulanan sebesar 0,02% (mtm) pada Agustus 2023, turun dari inflasi bulanan sebesar 0,21% sebulan sebelumnya, akibat moderasi harga hampir semua komponen, seperti makanan, minuman, dan tembakau; pakaian dan alas kaki; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga; perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga dan pemeliharaan rutin; transportasi; serta kesehatan.
Komponen harga diatur oleh pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,02% (mtm) pada Agustus 2023. Tren ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti penurunan harga eceran LPG non-subsidi dan normalisasi tarif transportasi udara setelah masa liburan sekolah. Namun, efek deflasi lanjutan tertahan oleh kenaikan harga rokok kretek filter dan rokok putih yang disebabkan oleh dampak kenaikan cukai tembakau. Secara tahunan, komponen ini tumbuh sebesar 8,05% (yoy).
Pada saat yang bersamaan, komponen harga bergejolak juga mengalami deflasi secara bulanan. Pada Agustus 2023, komponen ini mengalami deflasi sebesar 0,51% (mtm). Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh tekanan deflasi pada komoditas seperti daging ayam, telur ayam, dan bawang merah. Namun, tekanan inflasi tetap terjadi pada komoditas beras dan cabai. Secara tahunan, kelompok makanan yang fluktuatif mencatat tingkat inflasi sebesar 2,42% (yoy) pada Agustus 2023.
Inflasi inti menunjukkan perlambatan, mencapai 2,18% (yoy) pada Agustus. Inflasi inti relatif tidak berubah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Stabilitas ini dipengaruhi oleh penerapan langkah-langkah kebijakan moneter yang bijaksana dan koordinasi antara Pemerintah Indonesia dan BI dalam menjalankan berbagai inisiatif pengendalian harga dengan efektif, di antaranya Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan Gelar Pasar Pangan Murah (GPM).
Secara keseluruhan, inflasi di Indonesia tetap stabil dan sesuai dengan rentang target BI. Tren inflasi inti, harga yang diatur oleh pemerintah, dan kelompok harga bergejolak pada bulan Agustus menggarisbawahi upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas harga di tengah beragam tantangan, terutama fenomena El-Nino yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada bulan Agustus hingga September, serta penangguhan Black Sea Grain Initiatives oleh Rusia.
Surplus Perdagangan 40 Bulan
Dalam perkembangan ekonomi terkini, Indonesia menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan yang signifikan dalam sejumlah indikator utama. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menguat ke level 125,2 pada bulan Agustus 2023, mengalami peningkatan yang signifikan dari laporan bulan sebelumnya laporan bulan sebelumnya sebesar 123,5. Sinyal positif pada sisi konsumen juga diikuti oleh sisi produsen sentiment, menyusul penguatan Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dari level 53,3 pada Juli 2023 menjadi 53,9 pada Agustus 2023. Nilai ini merupakan pembacaan tertinggi di kawasan ASEAN sekaligus memperkuat posisi PMI Indonesia di wilayah ekspansif (>50) selama 24 bulan berturut-turut. Penguatan PMI bulan Agustus didorong oleh permintaan luar negeri yang kembali meningkat.
Salah satu capaian positif perekonomian Indonesia pada Agustus 2023 adalah neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus. Pada bulan Agustus 2023, surplus perdagangan Indonesia mencapai USD 3,12 miliar. Hal ini sekaligus menandakan 40 bulan surplus berturut-turut, catatan yang ditorehkan sejak Mei 2020. Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa ekspor mengalami penurunan sebesar USD 5 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, terutama akibat penurunan harga komoditas ekspor utama Indonesia.
Dalam hal ekspor non-migas, peningkatan terutama disumbangkan oleh lonjakan ekspor bijih logam, terak, dan abu (223,50%, mtm). Fenomena ini berkaitan erat dengan peningkatan permintaan asing, yang tercermin pada catatan ekspor ke mitra dagang utama seperti Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India, yang menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Ekspor non-migas ke Tiongkok, AS, dan India masing-masing mencapai USD 5,38 miliar (9,36%, mtm), USD 2,13 miliar (4,67%, mtm), dan USD 1,84 miliar (1,07%, mtm) pada Agustus 2023.
Impor menyusut sebesar 3,53% (mtm) pada Agustus akibat kontraksi impor minyak dan gas (-15,01%, mtm), yang menyebabkan penurunan defisit perdagangan minyak dan gas dari USD 1,91 miliar menjadi USD 1,34 miliar. Penurunan ini mencerminkan perkembangan positif dalam sektor energi.
Impor bahan baku dan penolong masih menjadi kontributor utama terhadap penurunan impor pada bulan Agustus 2023, mengikuti tren yang telah berlangsung sejak Februari 2023. Ke depannya, surplus perdagangan diperkirakan akan mengalami penurunan seiring dengan modulasi harga komoditas dan perlambatan ekonomi global.
Potensi Kenaikan Bunga The Fed
Pada minggu kedua September 2023, ECB menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,0% dalam upaya mengendalikan inflasi. Angka ini meningkat drastis dari minus 0,5% pada tahun lalu dan merupakan angka tertinggi sejak dibentuknya mata uang Euro pada tahun 1999. Inflasi AS juga meningkat menjadi 3,7% (yoy) pada Agustus 2023 karena adanya kenaikan minyak dan gas.
Namun, inflasi inti justru mengalami penurunan pada bulan Agustus 2023 menjadi 4,3% (yoy), yang mencerminkan dampak kenaikan harga energi terhadap tingkat inflasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, meskipun The Fed melanjutkan siklus pengetatan untuk mengendalikan inflasi dengan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,22-5,50% pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada tanggal 25-26 Juli lalu, bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada kisaran saat ini hingga akhir tahun.
Tingkat suku bunga yang lebih tinggi di negara maju meningkatkan daya tarik aset mereka dibandingkan dengan negara berkembang, dan pada saat yang sama menurunkan minat investor terhadap aset di Asia. Dampaknya, arus modal keluar di pasar keuangan Indonesia tercatat sebesar USD 1,47 miliar sepanjang pertengahan Agustus 2023 hingga pertengahan September 2023.
Penurunan total portofolio tersebut disumbang oleh aksi jual aset baik saham maupun obligasi. Hal ini tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun dan obligasi pemerintah bertenor 1 tahun dari masing-masing 6,58% dan 6,03% pada pertengahan Agustus 2023 menjadi 6,69% dan 6,22% pada pertengahan September 2023.
Kenaikan suku bunga The Fed juga mendorong nilai tukar Rupiah turun menjadi Rp 15.350 pada pertengahan September. Meskipun Rupiah dan Lira Brasil tetap menjadi mata uang dengan kinerja terbaik dibandingkan negara-negara berkembang lainnya, tingkat apresiasi Rupiah sejak awal tahun terpangkas menjadi hanya 1,22% (ytd) dari puncaknya sebesar 5,03% (ytd) pada pertengahan tahun. Selain itu, cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2023 masih tinggi yakni sebesar USD 137,1 miliar, meski sedikit melemah dibandingkan USD 137,7 miliar pada akhir Juli 2023. Penurunan tersebut terkait dengan kewajiban Pemerintah Indonesia untuk membayar utang luar negeri dan perlunya stabilisasi Rupiah sebagai respons terhadap meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Namun, cadangan devisa yang dimiliki saat masih sangat cukup untuk mendukung ketahanan sektor eksternal karena setara dengan kemampuan untuk membayar 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor beserta pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional yang berjumlah tiga bulan impor.
Meskipun terjadi arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia, kondisi fundamental perekonomian dalam negeri masih tergolong kokoh. Inflasi diperkirakan akan terus berada dalam kisaran target BI, dengan inflasi inti tetap terkendali. BI juga menerbitkan Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai instrumen operasi moneter kontraktif propasar untuk memperkuat upaya pendalaman pasar uang Rupiah, menarik masuknya aliran modal asing dalam bentuk investasi portofolio, dan mengoptimalkan aset SBN yang dimiliki Bank Indonesia sebagai acuan dimulai pada pertengahan September.
Selain itu, angka surplus neraca perdagangan terkini juga cukup tinggi sehingga kecukupan devisa menjadi lebih tinggi sehingga mampu membantu stabilisasi nilai tukar tanpa perlu adanya desakan bagi BI untuk melakukan penyesuaian suku bunga acuan. Cadangan devisa juga akan tetap cukup untuk mendukung ketahanan sektor eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Oleh karena itu, kami melihat BI perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya pada level 5,75% saat ini dengan tetap memantau stabilitas rupiah dan menjaga harga domestik.
