Bos OJK Bilang Tak Ada Perfect Storm, Apa Maksudnya?
JAKARTA, investortrust.id - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar mengungkapkan, kondisi ekonomiglobal tahun initidak seseram yang dibayangkan semula. Perfect storm (badai sempurna sebagai gambaran dahsyatnya krisis ekonomi, keuangan, moneter, dan geopolitik secara bersamaan) yang digadang-gadang bakal merontokkan perekonomian dunia, sama sekalitidak terjadi.
“Kalau kita flashback, meski mengalami perlambatan, kinerja perekonomian global saat ini ternyatalebih baik dibanding ekspektasiakhir tahun lalu,”kata Mahendra pada acara Apresiasi Media Massa 2023 di Jakarta, Senin (27/11/2023) malam.
Baca Juga
Mahendra menuturkan, pada akhir 2022, kalangan ekonom dan lembaga keuangan internasional memperkirakan ekonomi dunia bakal mengalami perfect storm pada 2023. ‘Badai’ dahsyat itu diprediksi terjadi sejalan dengan kebijakan moneter ketat secara agresif di negara-negara maju, terutama AS, yang kemudian mendorong ekonomi ke tubir resesi.
“Dalam waktu bersamaan, inflasi tidak terkendali di tengah rantai pasok global (global supply chain) yang bermasalah, baik akibat kondisi pasca-Covid maupun akibat memanasnya tensi geopolitik di Rusia dan Ukraina,” papar dia.
Baca Juga
Morgan Stanley Rilis Prediksi Ekonomi Global 2024, Yuk Cari Tahu Gambarannya
Nyatanya, menurut Mahendra Siregar, kondisi perekonomian global saat ini tidak seseram yang dibayangkan pada akhir tahun silam. “Yang kita lihat sekarang, menjelang penutupan tahun, ekonomi dunia tidak seburuk yang kita khawatirkan pada akhir 2022,” tandas dia.
Mahendra mengungkapkan, saat ini justruterjadi fenomena divergensi pemulihan ekonomi global yang dimotori AS. “Ekonomi AS mengalami semacam normalisasi. Kinerja ekonominya masih solid di tengah tren penurunaninflasi, walaupun inflasi di AS belum mencapaitarget The Fed sebesar 2%,” ujar dia.
Baca Juga
Sebaliknya,kata Mahendra, ekonomi negara-negara Eropa menunjukkan fenomena stagflasi. Bahkan beberapa negara di Benua Biru sudah terjerumus ke dalam jurang resesi di tengah resistensi inflasi tinggi. Di sisi lain,ekonomi China masih seperti saat pandemi, tumbuh melambat.
“Ekonomi China tidak rebound seperti harapan semula. Inflasinya di bawah target sebagai indikasi bahwa ekonomi China tumbuh rendah dibanding saat-saat normal,” ucap dia.

