Bahlil Sebut Tuntaskan 78,9% Proyek Investasi Mangkrak Warisan Tom Lembong
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadila buka-bukaan perihal warisan mangkrak yang ditinggalkan oleh Kepala BKPM 2016-2019 Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong.
Menurut Bahlil, Tom Lembong mewariskan proyek investasi mangrak sebesar Rp708 triliun. Ia mengklaim berhasil menuntaskan 78,9% dari total proyek mangkrak tersebut.
"Sejak saya memimpin BKPM Oktober 2019 saya diwariskan pemimpin terdahulu dengan investasi mangkrak Rp708 triliun. Alhamdulillah tidak lebih dari tiga tahun investasi mangrkak tersebut mampu kami eksekusi sebesar Rp558,7 triliun atau 78,9%," ungkap Bahlil dalam pemaparan Kinerja Investasi Tahun 2023 di Jakarta, Rabu (24/01/2024).
Kepada awak media, Bahlil menyebutkan realisasi penuntasan sebesar 78,9% dapat dikategorikan capaian yang baik. Hal tersebut mengingat di tengah situasi pandemi global akibat persebaran Covid-19.
Baca Juga
"Yang lainnya tidak bisa lagi kami eksekusi karena era pandemi Covid dan perusahaan-perusahaan itu mundur. Ini sekaligus sebagai laporan saya kepada publik bukan kita tidak bisa mengeksekusi tapi memang perusahaannya mengalami problem internal karena Covid dan lain-lain," terang Bahlil.
Selain itu, Bahlil juga membeberkan setidaknya tiga bukti perkembangan realisasi penuntasan proyek investasi mangkrak yang menjadi warisan BKPM kepemimpinan Tom Lembong pada periode sebelumnya.
Ada tiga proyek yang dipamerkan oleh Bahlil. Lotte Chemical di Cilegon, Banten, proyek PLTS terbesar se-ASEAN, dan pembangunan pabrik semen di Kalimantan Timur.
Baca Juga
"Lotte Chemicel, investasinya di Cilegon. Sekarang progresnya sudah mencapai 80%. Ini mangkrak 4-5 tahun. Pemimpin saya terdahulu tidak bisa menyelesaikan ini. karena memang ilmu lapangan tidak ada sekolahnya di Harvard," singgung Bahlil.
Ia menyebut petrochemical tersebut menyerap investasi sebesar Rp60 triliun. Sementara pabrik semen di Kalimantan Timur, Bahlil mengklaim sudah berproduksi.
"Itu contoh tiga, sekali lagi diwarisi oleh pemimpin terdahulu saya untuk diselesaikan. Tapi tidak boleh kita marah, karena sistem kepemimpinan di Republik ini berkelanjutan dan perbaikan. Jadi saya melanjutkan untuk memperbaiki," pungkas Bahlil.

