Kelas Menengah di Indonesia Mulai Kesulitan, Ada Apa?
JAKARTA, investortrust.id – Mengingat tingginya ketidakpastian global saat ini, pengelolaan anggaran negara perlu fleksibel, baik selama masa pemerintahan transisi maupun bagi pemerintahan baru. Tim ekonom Bank Mandiri mengingatkan bahwa APBN harus dijaga kemampuannya sebagai penyerap kejutan ekonomi.
Selain itu, rumah tangga kelas menengah mulai kesulitan akibat kenaikan harga barang berbagai kebutuhan pokok. “Ini seharusnya menjadi perhatian utama bagi pemerintahan baru ke depannya,” kata Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk, Andry Asmoro dalam analisisnya, Rabu (28/2/2024).
Memasuki tahun 2024 ini, kata Andry, prospek ekonomi global masih menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat, yang berpotensi memengaruhi pendapatan pemerintah dari kegiatan ekspor-impor. Ekonomi Indonesia akan sangat bergantung pada faktor domestik seperti belanja rumah tangga dan kesehatan belanja pemerintah.
Namun, pada Januari 2024, beberapa indikator utama menunjukkan bahwa aktivitas domestik sedikit melambat karena efek musiman dan potensi penurunan daya beli rumah tangga. Indeks Belanja Mandiri (MSI) turun dari 220,8 pada Desember 2023 menjadi 197,9 pada Januari 2024, bersamaan dengan penurunan inflasi inti yang konsisten.
Hal ini juga tercermin pada penerimaan yang lebih rendah dari pajak pertambahan nilai (PPN) yang berasal dari aktivitas domestik. Di tengah bantuan sosial yang gencar kepada rumah tangga yang terdampak, rumah tangga kelas menengah mengalami kesulitan akibat harga barang yang lebih tinggi. “Oleh karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa rumah tangga menengah bawah mendapat perlindungan melalui APBN, sambil tetap menjaga defisit anggaran yang manageable,” kata Andry.
Selain itu, kata Andry, menghadapi tren penurunan suku bunga oleh bank sentral tahun ini, pemerintah perlu mempertimbangkan secara strategis waktu penerbitan obligasi (SBN). Selama periode transisi pemerintahan, defisit fiskal relatif terkendali. Pengeluaran akan difokuskan pada penyelesaian proyek infrastruktur yang dan pengembangan ibu kota negara (IKN).
Sementara itu, tekanan baru-baru ini pada harga beras juga sebaiknya perlu diatasi dengan perpanjangan masa bantuan sosial beras. Meskipun demikian, defisit fiskal harus dijaga, agar mengurangi kebutuhan pendanaan obligasi. “Kami memperkirakan defisit fiskal mencapai targetnya sebesar 2,29% dari PDB,” ujar Andry.
Draf pertama RAPBN 2025 telah ditetapkan dengan target defisit 2,45-2,8% terhadap PDB, dengan target pertumbuhan ekonomi yang optimistis sebesar 5,3%-5,6%.
Bank Mandiri juga menyebut bahwa konflik di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak sebesar 8,89% ytd. Sementara El Nino yang berkepanjangan telah memengaruhi produksi pangan yang dapat mendongkrak harga pangan. “Harga beras global telah meningkat sebesar 5,49% ytd, sedangkan harga beras domestik juga telah meningkat sebesar 7,85% ytd,” kata Andry.
