BI Ungkap 2 Faktor Utama yang Pengaruhi Harga Barang, Nilai Tukar, dan Inflasi
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyebut ada dua faktor utama yang mempengaruhi perkembangan harga, inflasi, dan nilai tukar rupiah. Dia mengatakan dua faktor tersebut yaitu faktor fundamental dan berita.
“Satu, faktor fundamental itu supply dan demand. Kedua, adalah berita,” kata Perry saat konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang digelar di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (30/1/2024).
Perry menjelaskan, inflasi misalnya supply dan demand tentu berpengaruh. Tapi, meski supply dan demand tersebut terkendali, inflasi dapat terjadi karena munculnya berita. Inilah yang berpengaruh pada perubahan harga di pasar. “Kalau ada berita mau lebaran, harga-harga naik,” ujar dia.
Ini, kata Perry, juga berpengaruh terhadap nilai tukar. Meski secara fundamental menguat nilai tukar rupiah tetap tertekan oleh dolar Amerika Serikat (AS). Bukti kuatnya fundamental rupiah yaitu neraca perdagangan yang surplus.
“Surplus perdagangan berarti hasil ekspor dan permintaan valas untuk impor kan lebih banyak valas dari ekspor, karena surplus perdagangan,” kata dia.
Baca Juga
Bank Indonesia Guyur Likuiditas Rp 165 Triliun untuk Sektor Bisnis Prioritas
Selain neraca perdagangan yang surplus, Perry menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi dan inflasi yang rendah, harusnya membuat rupiah menguat. Tapi, kenyataannya berbeda. “Itu (melemahnya rupiah) tren,” kata dia.
Perry menjelaskan ada beberapa berita yang membuat dolar AS menguat. Misalnya, pernyataan FOMC yang sabar untuk menurunkan Fed Fund Rate karena personal spending dan ekonomi AS yang tumbuh baik. Selain itu, berita eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah dan di Laut China Selatan sehingga ada gangguan pasokan.
“Berita-berita itu yang membuat kemudian tekanan nilai tukar mata uang dunia termasuk rupiah meningkat,” ujar dia.
Dalam jangka pendek, BI akan mengintervensi penguatan dolar AS tersebut. Perry mengatakan intervensi tersebut dilakukan di pasar tunai atau spot dan membeli SBN di pasar sekunder.
Baca Juga
Bank Indonesia Ajak Investor Jepang Tanamkan Uangnya di Indonesia

