Agar Ekonomi Tumbuh 5%-7%, Ini Saran Arif Patrick Rachmat
JAKARTA, investortrust.id— Agar ekonomi bertumbuh 5%-7%, iklim investasi Indonesia harus semakin baik guna menarik foreign direct investment (FDI) atau investasi asing langsung. Di saat modal di dalam negeri terbatas, FDI adalah solusi penting untuk membuka lapangan kerja dan mendorong laju pertumbuhan ekonomi.
“Pemilu sudah selesai. Mudah-mudahan politik kita stabil. Terima kasih kepada media nasional yang sudah merawat demokrasi,” kata Executive Chairman PT Triputra Agro Persada Tbk Arif Patrick Rachmat pada acara buka puasa bersama para pemimpin media, Kamis (21/03/2024). Sebagai pengusaha, pihaknya lebih melihat pentingnya stabilitas politik agar kegatan ekonomi kembali berjalan dengan normal.
Sebagaimana diumumkan Komisi Pemilhan Umum (KPU), Rabu (20/03/2024), Prabowo-Gibran meraih 96.214.691 suara atau 58,83%. Posisi kedua, Anies-Cak Imin dengan raihan 40.971.906 suara atau 25,05% dan terakhir Ganjar-Mahfud 27.040.878 suara atau 16,53%. Pihak yang tidak puas dan hendak menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) diberikan waktu 3 x 24 jam dan total waktu yang diperlukan MK hingga putusan dijatuhkan 14 hari.
Masuknya FDI sangat ditentukan oleh iklim investasi yang kondusif. Selain stabilitas politik, penentu iklim investasi yang kondusif adalah pengelolaan fiskal yang disiplin. “Kita berharap, defisit fiskal (Angaran Pendapatan dan Belanja Negara/APBN —Red) tidak lebih dari 3% dari PDB,” kata Arif.
Baca Juga
Realisasi Investasi Tembus Rp 1.418 Triliun di 2023, Sektor Sekunder Sumbang 52%
Pengelolaan fiskal yang disiplin selalu menjadi perhatian pemodal, terutama asing. Jika defisit fiskal melewati 3% dari PDB dalam situasi normal, pemerintah dianggap tidak kredibel dan itu bisa memicu pelemahan rupiah. Nilai tukar yang tidak stabil menyulitkan pelaku usaha.
Pada masa pandemi, defisit fiskal sengaja diperbesar agar pemerintah memiliki cukup dana untuk mengangkat daya beli rakyat, antara lain lewat dana perlindungan sosial. Untuk menutup defisit yang membesar, pemerintah harus menambah utang. Sedang saat ini, utang pemerintah sudah cukup besar akibat membengkaknya defisit fiskal di masa pandemi, 2020 hingga 2022. Pada tahun 2020, defisit fiskal mencapai 6,09% dari PDB, dan pada tahun 2021 defisit tercatat 4,57%. Pada tahun 2022, defisit fiskal sudah kembali berada di bawah 3% dari PDB.
Untuk membuka lapangan kerja dan menurunkan angka pengangguran, ekonomi Indonesia harus bertumbuh 5%-7%, dan minimal 5%. Target itu hanya bisa dicapai jika ada aliran masuk modal asing. “Pak Burhanuddin Abdullah, Ketua Dewan Pakar Prabowo Subianto menekankan pentingnya FDI. Dua pekan lalu di acara Mandri Investment Forum, pentingnya FDI diujarkan para pembicara,” kata putra tertua Teddy Permadi (TP) Rachmat, pendiri Triputra Group.
Arif mengakui, kehidupan masyarakat menengah-bawah saat ini sangat sulit. “Teman saya, salah satu pengusaha besar di industri rokok mengatakan, agar penjualan bisa tetap bagus, produksi rokok harus shifting ke kemasan yang lebih murah,” papar Arif
Indonesia, kata Arif, membutuhkan new engine agar laju pertumbuhan ekonomi dapat dipacu lebih cepat. Saat ini, sejumlah harga komoditas, termasuk nikel, mengalami penurunan. Industri petrokimia menurutnya merupakan salah satu new engine untuk menggerakkan perekonomian.
Baca Juga
Meski Laba Turun, Target Saham Triputra Agro (TAPG) Ini Tetap Menarik
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, angkatan kerja per Agustus 2023 sebesar 147,71 juta orang, naik 3,99 juta orang dibanding Agustus 2022. Dari jumlah itu, penduduk yang bekerja 139,85 juta orang, naik sebanyak 4,55 juta orang dari Agustus 2022. Yang bekerja di sektor formal sebanyak 57,18 juta orang atau 40,89%.
Sedangkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) per Agustus 2023 sebesar 5,32%, turun sebesar 0,54% dibanding Agustus 2022.
Realisasi investasi selama 2023, demikian data Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), mencapai Rp 1.418,9 triliun, atau 101,3% dari target yang ditetapkan sebesar Rp 1.400 triliun.
Dari angka realisasi investasi tersebut, penanaman modal asing (PMA) tercatta sebesar Rp 744,0 triliun atau setara 52,4% dari total realisasi investasi. Sedang realisasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 674,9 triliun atau mencapai 47,6%.
