Tepat, Langkah BI Menahan BI Rate
Oleh Ryan Kiryanto,
Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia
INVESTORTRUST.ID – Keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini (21/02/2023) menahan suku bunga acuan atau BI Rate merupakan langkah yang tepat, dan sudah diperkirakan demikian. Ini sebuah keputusan yang preemptive sekaligus antisipatif, terutama untuk memperkuat stance BI yang pro-stability, guna mengendalikan ekspektasi inflasi ke depan dan menjaga kestabilan nilai tukar rupiah utamanya terhadap dolar Amerika Serikat.
BI berupaya menjaga inflasi tetap terkendali, yakni dalam sasaran 2,5±1% pada 2024. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari 2024 tercatat sebesar 2,57% (year on year), menurun dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,61% (yoy).
Baca Juga
BI Kembali Pertahankan BI Rate 6%
Secara umum, memang, situasi dan kondisinya belum mendukung untuk penurunan BI Rate. Pasalnya, antara lain, situasi eksternal masih memanas.
Tensi geopolitik meningkat di Jalur Gaza dan Laut Merah, yang berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia. Hal ini memicu harga minyak dunia naik dan bisa menembus 90 USD per barel, sehingga dapat mendorong kenaikan inflasi global, yang pada gilirannya akan menggoda bank-bank sentral negara maju cenderung menahan suku bunga acuan.
Volatilitas Rupiah Masih tinggi
Apalagi, di pasar uang domestik terpantau pergerakan volatilitas rupiah terhadap dolar AS masih cukup tinggi. BI mencatat, nilai tukar rupiah melemah sekitar 1,68% dari level akhir Desember 2023.
Selain itu, di dalam negeri mendekati puasa Ramadan, yang biasanya inflasi bulanan naik lantaran meningkatnya permintaan konsumsi masyarakat. Ini terutama konsumsi kelompok bahan pangan/sambako, transportasi, dan telekomunikasi.
Baca Juga
Situasi politik dalam negeri yang agak menghangat akhir-akhir inj juga perlu dikonsider dengan baik. Artinya, kebijakan bank sentral menahan BI Rate tetap 6% adalah tepat dan rasional.
Bisa disimpulkan, pilihan prioritas kebijakan moneter BI untuk tetap pro-stability sudah on the track untuk jangka pendek ke depan ini, seraya BI tetap mempertahankan kebijakan makroprudensial yang pro-growth. Dengan demikian, stance kebijakan yang stability over growth terlihat nyata untuk dipedomani seluruh pelaku ekonomi, keuangan, bisnis dan investasi.
Setidaknya, sektor perbankan masih akan status quo dalam bersikap terkait penetapan suku bunga (simpanan dan kredit). Suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit pada Januari 2024 misalnya, tercatat masing-masing sebesar 4,62% dan 9,30%, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. ***

