Menahan BI Rate 6%, Stability over Growth
Oleh Ryan Kiryanto,
Ekonom Senior dan
Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI)
INVESTORTRUST.ID – Pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) hari terakhir besok, Rabu (20/3/2024), BI diperkirakan masih akan melanjutkan keputusannya untuk mempertahankan BI Rate tetap di 6%. Beberapa pertimbangan mendasari analisis menjelang pengumuman hasil RDG BI ini.
Pertama, outlook atau ekspektasi inflasi tahunan (year on year) ke depan cenderung naik. Hal ini didorong oleh kenaikan harga beras dan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, sesuai dengan harga keekonomian.
Lebih-lebih menjelang hari raya Lebaran atau Idulfitri, bulan Maret dan April 2024. Inflasi bulanannya dipastikan cenderung tinggi, seiring kenaikan harga kelompok pangan dan transportasi.
Baca Juga
PDB/Kapita Rendah, Inflasi Pangan Tinggi Miskinkan Rakyat (Tulisan 3 dari 10 Seri)
Surplus Perdagangan Anjlok
Yang kedua, perkembangan kurs rupiah terhadap dolar AS cenderung melemah atau sangat fluktuatif (volatile). Hal ini terjadi di tengah menurunnya surplus neraca perdagangan Indonesia secara bulanan, lantaran anjloknya harga komoditas primer, baik minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), batu bara, hingga nikel dan bauksit seiring melemahnya permintaan global. Komoditas ini memberikan sumbangan besar terhadap perolehan devisa RI.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor Indonesia pada Februari 2024 sebesar US$ 19,31 miliar. Nilainya turun 5,79% dibanding ekspor Januari 2024 atau bahkan 9,45% bila dibanding Februari 2023.
Sementara, nilai impor Indonesia mencapai US$ 18,44 miliar, turun 0,29% dibandingkan Januari 2024. Namun, melonjak 15,84% dibandingkan Februari tahun lalu.
Alhasil, surplus neraca perdagangan menipis menjadi US$ 0,87 miliar pada Februari 2024. Anjlok sangat dalam, 83,95%, dibanding surplus pada bulan sama tahun lalu yang mencapai US$ 5,40 miliar.
Stance Kebijakan Moneter Global Ketat
Dari sisi eksternal (global), stance kebijakan moneter juga masih cenderung ketat atau hawkish. Salah satunya dari kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Jepang (Bank of Japan) menjadi positif 0,1%, dari sebelumnya suku bunga negatif.
Keputusan RDG BI menahan BI Rate tetap 6% juga relatif tidak mengganggu stabilitas sistem keuangan, fungsi intermediasi oleh industri keuangan (utamanya perbankan), serta tidak mengendurkan aktivitas sektor riil atau dunia usaha. Ini lantaran perbankan condong tidak akan mengubah stance kebijakan suku bunganya.
Di samping itu, pelaku usaha masih memungkinkan untuk mencari pembiayaan dari pasar modal, yang saat ini menunjukkan kegairahan. Sepanjang Maret ini, asing mencatatkan pembelian bersih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) month to date senilai Rp 8,53 triliun. Secara year to date, akumulasi net buy saham oleh nonresiden menembus Rp 26,97 triliun.
Oleh karena itu, prinsipnya, sejauh outlook atau ekspektasi inflasi tahunan ke depan masih di atas target BI yang titik tengahnya 2,5%, maka bank sentral cenderung akan menahan level BI Rate tetap 6%. Pada Februari 2024 terjadi inflasi year on year sebesar 2,75%, dengan kenaikan indeks kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mencapai 6,36% atau tertinggi.
Stance policy BI itu sejalan dengan pakem saat ini, yaitu “stability over growth”. ***

