Bagikan

Dedolarisasi, Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia

Oleh Antony Dirga, CFA – CEO PT Trimegah Asset Management

AKHIR-AKHIR ini banyak opini yang berkembang bahwa tren dedolarisasi sedang berlangsung dan mata uang dolar AS akan segera ditinggalkan sebagai mata uang utama reserve dunia. Artikel ini membahas beberapa aspek sejarah berbagai mata uang yang pernah menjadi mata uang reserve dunia sehingga kita memiliki konteks yang lebih tepat dalam mengantisipasi efek atau dampaknya terhadap perekonomian global pada dan perekonomian Indonesia.

Sejarah Mata Uang

Ribuan tahun lalu, transaksi komersial dilakukan secara barter. Karena ketidakefisienan sistem perdagangan barter, sejarah menunjukkan tiap peradaban selalu berusaha menggunakan satu mata uang universal yang dapat digunakan secara efisien untuk mendukung sistem perdagangan. Mata uang yang digunakan dapat berupa kulit kerang, batu, logam, bulu, garam, perak, emas, koin logam, uang kertas, maupun uang elektronik pada akhir-akhir ini.

Apapun bentuknya, mata uang universal membutuhkan dukungan ekonomi, dukungan politik, area perdagangan luas, dan yang membutuhkan tingkat kepercayaan yang tinggi. Dalam sejarahnya, beberapa mata uang universal yang sukses digunakan dalam kurun waktu yang lama terbentuk setelah berdirinya kerajaan politik di Eropa, Timur Tengah dan Asia. Berakhirnya penggunaan mata uang universal di Eropa pada zaman kerajaan Romawi Kuno maupun di Tiongkok pada era dinasti Qin dan Han dipicu oleh ketidakstabilan ekonomi dan politik.

Sejarah terus menunjukkan bahwa digunakannya mata uang universal sejalan dengan kestabilan ekonomi dan kekuatan politik yang dapat meng-enforce penggunaan mata uang tersebut. Dalam beberapa abad terakhir pasca abad pertengahan, mata uang beberapa negara menjadi reserve dunia, seperti Portugal dari tahun 1450-1530, Spanyol 1530-1640, Belanda 1640-1720, Perancis dengan mata uang Assignat-nya dari tahun 1720-1815, Inggris dengan Poundsterling pada1815-1920, dan terakhir, dolar AS dari tahun 1921 hingga sekarang.

Jika kita amati dengan seksama, semua pergantian mata uang universal di atas didasari oleh bangkit jatuhnya kestabilan ekonomi dan kekuatan politik negara tertentu. Kekuatan dolar AS sebagai mata uang utama reserve dunia dimulai pasca Perang Dunia II, pada perjanjian Bretton Woods di tahun 1944, ketika negara-negara sekutu mengukuhkan dolar AS Standard sebagai pengganti Gold Standard. Meskipun sistem fixed exchange rate yg dijaga oleh perjanjian Bretton Woods akhirnya berakhir di tahun 1973, dolar AS tetap menjadi mata uang utama dalam perekonomian dunia yang sekarang menganut system flexible exchange rate.

Posisi Dolar AS dan Tren Dedolarisasi

Menurut artikel IMF yang terbit Mei 2021, market share dolar AS sebagai mata uang reserve utama dunia turun ke level yang terendah dalam 25 tahun terakhir (dapat dilihat pada tabel di bawah ini).

Katalis utama tren ini adalah peluncuran Euro sebagai mata uang dominan yang dapat dijadikan alternatif dalam transaksi perdagangan global. 

Namun jika kita amati lebih detail, posisi pangsa Euro selama 25 tahun sebenarnya hanya stabil di kisaran 20%, sedangkan mata uang lain seperti dolar Australi, Kanada, dan Renminbi Tiongkok naik ke level 9%. Posisi pangsa terakhir dolar AS pada akhir 2022 di level 58,3%, posisi kedua Euro 20,5%, Yen 5,5%, 5%, dan Renminbi 2,7%. (Lihat tabel berikut)

Akhir-akhir ini beberapa negara besar menginsiasi gerakan, seperti BRICS (Brazil, Russia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) untuk beralih ke mata uang baru dan sekaligus meninggalkan dolar AS dalam perdagangan mereka. Kita juga melihat gerakan dari Pemerintah Indonesia yang mengadakan banyak perjanjian bilateral di lingkup regional supaya perdagangan antarnegara dapat dilakukan menggunakan Rupiah dan mata uang regional lainnya.

Pertanyaan utama bagi kita tentunya adalah: apakah dolar AS akan segera ditinggalkan dan dedolarisasi akan segera terjadi dalam waktu dekat ini? Dapatkah dunia meninggalkan dolar AS dalam waktu dekat?

Jika kita pelajari data perdagangan di dunia yang diterbitkan oleh WTO (World Trade Organization) baik itu perdagangan barang maupun jasa pada kedua tabel di bawah ini, Amerika Serikat hanya berkontribusi 8,3% dari total ekspor barang yang beredar secara global, 13,1% dari total ekspor jasa secara global dan 16,6% dari total impor jasa secara global. Ini sangat kontras dengan porsi pangsa pasar dolar AS yang sangat dominan di level 58,3% sebagai cadangan devisa di dunia. Berdasarkan data ini, secara teori dedolarisasi dapat saja terjadi dalam waktu yang singkat, jika ada komitmen dari mayoritas negara di dunia untuk meninggalkan dolar AS secara bersama-sama.

Pertanyaannya, adakah motivasi politik yang dominan dan bisa menyatukan negara-negara besar di dunia untuk menggantikan dolar AS sebagai mata uang utama? Lantas, mata uang apa yang akan digunakan untuk menggantikan dolar AS?

Tentang motivasi politik, jika kita menggunakan framework Game Theory di mana aksi dari suatu negara mempertimbangkan aksi negara-negara lain, posisi dolar AS sebagai mata uang yang mendominasi perdagangan internasional adalah hasil dari ekuilibrium yang terbentuk melalui proses puluhan tahun. Proses yang tentunya terkait dengan melajunya ekonomi Amerika sebagai ekonomi nomor satu di dunia, kemenangan AS dalam perang dingin melawan Rusia di masa lalu, dan posisi AS sebagai kekuatan militer dan politik nomor satu di dunia. Semuanya adalah satu kesatuan paket.

Belajar dari sejarah pergeseran kekuatan mata uang Portugal, Belanda, Perancis, Inggris dan kemudian AS, semua sejalan dengan kekuatan ekonomi, militer, dan politik dari negara-negara tersebut yang jaya pada masanya. Berbicara tentang kekuatan politik dan militer di masa modern kali ini, ada satu variabel yang menyebabkan persaingan dunia secara militer dan politik telah menemui jalan buntu, yaitu ditemukannya senjata nuklir pada tahun 1942 dan digunakan untuk pertama kali pada perang dunia kedua di tahun 1945. Dengan banyaknya negara adidaya yang memiliki senjata nuklir, pengambilalihan kekuasan menggunakan kekuatan milter secara frontal sudah tidak memungkinkan. Semua negara tahu bahwa ketika satu negara menekan tombol senjata nuklir mereka, semua negara akan menekan dan berakhirlah peradaban dunia yang kita kenal sekarang.

Kesimpulannya, perebutan kekuasaan politik secara frontal dan militer tidaklah merupakan opsi yang feasible. Jalan politik yang cenderung diambil adalah perang dingin yang berlangsung sejak berakhirnya perang dunia kedua. Inilah sebabnya, jalan satu-satunya yang masih terbuka untuk mengambil alih dominansi dunia adalah jalur perekonomian.

Dengan terjadinya perang Ukraina dan Rusia akhir-akhir ini, kelihatannya dunia sudah masuk pada fase perang dingin yang baru, di mana Rusia, RRT, dan beberapa negara lain yang berseberangan dengan AS dan sekutunya (NAT) mencoba mendilusi kekuatan politik Barat. Dedolarisasi adalah salah satu cara untuk melemahkan dominansi Amerika di sisi ekonomi.

Berdasarkan framework Game Theory tadi, tentunya usaha-usaha untuk melemahkan posisi AS secara ekonomi dapat dilakukan, tetapi secara logika AS pun tentu akan bereaksi dan berupaya mempertahankan posisi. Masing-masing negara pun memiliki agenda yang tidak selalu sejalan dengan semangat “anti Amerika” mengingat mereka pun masih membutuhkan AS sebagai pasar besar untuk ekspor ataupun supplier utama untuk impor.

Memang secara ekonomi, posisi AS perlahan-lahan akan diambil alih oleh RRT. Menurut Capital Economics dan juga Goldman Sachs, ekonomi RRT akan melampaui AS pada 2030-2040 (masih sekitar 10 tahun lagi). Prediksi inipun bukan tanpa tantangan, karena RRT memiliki masalah demografi yang akhirnya akan mengganggu pertumbuhan ekonomi mereka secara fundamental.

Capital Economics memprediksi karena problem demografi yang disebabkan oleh “One Child Policy” di masa lalu, ekonomi RRT akan kembali dilampaui oleh AS pada akhirnya. Kebijakan tertutup yang diterapkan RRT dalam mengelola ekonominya (contoh konkret adalah campur tangan dan kepemilikan pemerintah RRT pada perusahaan raksasa Alibaba dan Tencent melalui “golden shares”) memang membuat negeri itu lebih tidak diminati oleh para entrepreneur kelas dunia.

Sistem perekonomian AS yang lebih terbuka, transparan dengan governance memang membuat AS sebagai ladang pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat. Jika kita membandingkan RRT vs Amerika, memang tidak mudah bagi RRT untuk melampaui posisi AS sebagai ekonomi nomor satu di dunia.

Menurut hemat penulis, cara tercepat untuk menjatuhkan posisi ekonomi AS adalah jika Amerika sendiri yang melakukan kesalahan besar. Contohnya jika mereka tidak mengatasi masalah debt ceiling di awal bulan Juni kemarin dengan baik. Masalah utang AS yang terus membumbung tinggi jika tidak diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup atau disiplin belanja yang baik suatu saat dapat menjadi bom waktu.

Pertanyaan kedua, meskipun misalnya secara politik ataupun ekonomi dominasi AS berhasil digeser, mata uang mana yang akan menjadi alternatifnya? Moody’s dalam laporan 25 Mei 2023 menyatakan bahwa dominansi dolar AS dalam perdagangan internasional akan terus berlangsung dalam beberapa dekade ke depan. Moody’s percaya bahwa pangsa pasar dolar AS sebagai cadangan devisa dunia akan terus turun perlahan, namun alternatif utama seperti Euro dan Renminbi akan sulit untuk mengambil alih posisi utama, karena mereka belum bisa menggantikan kombinasi stabilitas dan keterbukaan ekonomi, dan juga belum dapat menyaingi likuiditas dan keamanan US treasury sebagai instrumen safe haven dunia.

Penulis setuju dengan pernyataan Moody’s bahwa dalam waktu dekat, sulit dibayangkan Euro, Yen, Pound, Renminbi atau mata uang lainnya mampu menjadi alternatif pengganti dolar AS. Jika misalnya BRICS akan mengeluarkan mata uang regional baru seperti Euro, butuh waktu sangat panjang mengingat Euro sendiri butuh 40 tahun sebelum terbentuk. Itupun dimulai dari terbentuknya European Union terlebih dahulu.

Salah satu wild variable yang harus kita amati adalah

perkembangan CBDC (Central Bank Digital Currencies). Mata uang digital tentunya dapat menjadi opsi independen yang, jika disetujui oleh banyak negara, akan menjadi contender sangat kuat bagi dolar AS. Tentunya AS akan sangat berhati-hati dalam menjaga kepentingan mereka. Tetapi jika negara-negara besar menyetujui penerapan mata uang digital, bukan tidak mungkin dolar AS kehilangan dominansinya dalam waktu lebih singkat.

Sejarah mengajarkan bahwa Portugal, Spanyol, Perancis dan Inggris semua kehilangan dominansinya masing-masing setelah sekitar 100 tahun. AS sudah memegang tampuk dominansi selama kurang lebih 100 tahun. Apakah mata uang digital dapat menjadi mata uang alternatif yang menutup siklus 100 tahun kepemimpinan dolar AS? Waktu yang akan menjawab.

Berdasarkan analisa di atas, dunia dapat saja meninggalkan dolar AS dalam waktu dekat jika Amerika sendiri yang melakukan blunder seperti kesalahan pengelolaan utang atau malah default. Kemungkinan lainnya adalah jika framework CBDC dapat disepakati oleh BRICS ataupun negara adidaya lainnya dengan cepat.

Penulis berpendapat bahwa kedua kemungkinan di atas meskipun realistis, memiliki probabilitas kecil, mengingat AS dan sekutunya pasti akan melakukan segala cara untuk memperlambat proses tersebut. Jadi skenario utama yang paling realistis adalah dedolarisasi akan terjadi dalam kurun waktu yang panjang.

Dampak Dedolarisasi ke Global dan Indonesia

Jika dedolarisasi terjadi dalam jangka waktu yang panjang, misalnya puluhan tahun, dampaknya pada perekonomian global dan Indonesia cenderung netral. Masih cukup waktu bagi pelaku ekonomi dan pasar untuk melakukan penyesuaian. Dengan dedolarisasi, tentunya nilai tukar dolar AS akan turun dibandingkan dengan mata uang negara-negara lain dengan fundamental yang kuat. Namun jika kita analisis lebih lanjut, di antara mata uang alternatif, tidak ada satupun yang didukung oleh fundamental yang lebih kuat dibanding ekonomi AS.

Eropa dan Jepang memiliki problem demografis yang akan membebani pembayaran utang ke depan. Inggris memilki posisi ekonomi yang lebih baik dari Eropa dan Jepang, namun tidak lebih baik dari Amerika dalam beberapa metrics. Tiongkok mungkin dalam kondisi yang lebih baik, tetapi sistem ekonominya tidak transparan dan tertutup, ditambah motivasi politik untuk mempertahankan nilai Renminbi yang relatif murah akan menjadi tantangan tersendiri bagi Renminbi untuk terapresiasi.

Sejarah pun membuktikan bahwa dalam masa dedolarisasi yang sudah terjadi lebih dari 25 tahun yang lalu (sejak lahirnya Euro), dimana pangsa dolar AS sebagai cadangan devisa dunia turun dari 71% menjadi 58%, nilai DXY (US Dolar AS Index) yang seharusnya turun ternyata tidak jauh berubah berdasarkan chart di bawah ini.

Langkah terbaik untuk menyikapi ini adalah dengan mulai mendiversifikasikan eksposur bisnis maupun investasi pada mata uang alternatif lainnya dan juga pada emas atau logam mulia lainnya. Bagi eksportir maupun importir, mulailah ikuti program perjanjian bilateral yang sudah ditandatangani oleh pemerintah kita dan bertransaksi menggunakan mata uang negara yang bersangkutan. Intinya pelaku bisnis harus proaktif mengikuti perkembangan tren dedolarisasi dan berdaptasi dengan perubahan-perubahan yang akan terjadi.

Pemerintah Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam menyikapi tren dedolarisasi. Posisi Indonesia sekarang merupakan ekonomi nomor 16 terbesar di dunia berdasarkan PDB (di akhir 2021). Langkah-langkah yang dilakukan pemerintah Pak Jokowi terkait hilirisasi, pembangunan infrastruktur, DHE (Dana Hasil Ekspor) dan perluasan partisipasi pajak semua bertujuan untuk membangun tabungan surplus transaksi berjalan yang berkelanjutan, menaikkan efisiensi transportasi dan menekan inflasi, memperdalam likuiditas rupiah, dan membangun posisi fiskal yang kuat untuk negara kita.

Intinya, semua demi perbaikan kondisi fundamental di negara kita. Jika kebijakan ini terus dilakukan dengan konsisten, dalam 20 tahun ke depan, sangat mungkin posisi Indonesia akan naik menjadi nomor 5 ekonomi terbesar di dunia. Jika negara kita terus memperkuat fundamental kita, bukan tidak mungkin bahwa Rupiah dapat menjadi salah satu mata uang alternatif reserve dunia.

Investor asing tentunya akan terus memantau konsistensi dan perkembangan dari upaya pemerintah tersebut di atas sebagai variabel utama sebelum menambah investasi di sini. Sebagai investor lokal, kita pun wajib memonitor hal yang sama. Jika upaya pemerintah terus dilakukan secara konsisten, apalagi jika disertai dengan perbaikan corporate governance dan perluasan literasi keuangan, pasar modal kita akan semakin berkembang dan menarik untuk diinvestasikan.

Konsistensi akan membuahkan recognition dari pengamat dan investor asing, bukan tidak mungkin credit rating kitapun dapat meningkat beberapa notch dalam 20 tahun ke depan. Dengan tingkat inklusi keuangan yang sudah tinggi, sejalan dengan bertambahnya PDB per kapita kita, pasar saham dan obligasi kita akan semakin dalam dan likuid. Ini tentunya akan meningkatkan prospek investasi di saham dan obligasi, baik secara langsung maupun melalui reksadana yang dikelola oleh manajer investasi profesional.***

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024