Dedolarisasi Meningkat di Asia, tapi ‘Greenback’ Masih Tak Tergantikan
NEW YORK, investortrust.id - Proses dedolarisasi kian menguat di kawasan Asia, seiring ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan moneter global, dan meningkatnya kebutuhan lindung nilai terhadap volatilitas mata uang. Kawasan ini terus bergerak menjauh dari dominasi dolar AS dalam transaksi dan cadangan devisa.
Baca Juga
Menuju Dedolarisasi, Vladimir Putin Rilis Sistem Pembayaran BRICS Independen
Langkah terbaru datang dari ASEAN, yang baru saja meluncurkan Economic Community Strategic Plan 2026–2030, dengan salah satu prioritas utama adalah memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi antarnegara. Inisiatif ini bertujuan mengurangi risiko akibat fluktuasi nilai tukar, sekaligus memperkuat konektivitas sistem pembayaran regional.
“Keputusan kebijakan perdagangan yang tidak menentu dari Trump dan depresiasi tajam dolar kemungkinan mempercepat peralihan menuju mata uang lain,” ujar Francesco Pesole, ahli strategi valuta asing di ING.
Meskipun tren dedolarisasi terjadi secara global, pergerakan di Asia menjadi yang paling nyata. Data menunjukkan, pangsa dolar dalam cadangan devisa global telah menurun dari lebih dari 70 persen pada tahun 2000 menjadi 57,8 persen pada 2024. Tahun ini, dolar juga mengalami tekanan jual yang tajam, terutama pada April, menyusul meningkatnya ketidakpastian kebijakan di Washington. Indeks dolar telah melemah lebih dari 8 persen sejak awal tahun.
Mitul Kotecha, kepala strategi FX dan makro emerging markets Asia di Barclays, menyebut bahwa persepsi terhadap dolar telah berubah. “Negara-negara mulai menyadari bahwa dolar bisa - dan sudah - digunakan sebagai alat tekanan dalam negosiasi dagang maupun sanksi langsung. Ini perubahan besar dalam beberapa bulan terakhir,” ungkapnya kepada CNBC.
ASEAN Percepat Peralihan
Menurut Bank of America, pergeseran dari dolar di Asia Tenggara semakin cepat, didorong oleh dua faktor utama. Pertama, konversi tabungan dolar ke mata uang lokal oleh masyarakat dan perusahaan. Kedua, peningkatan aktivitas lindung nilai (hedging) oleh investor institusi terhadap eksposur mata uang asing.
“Dedolarisasi di ASEAN kemungkinan akan dipercepat melalui konversi simpanan valas yang telah terkumpul sejak 2022,” beber Abhay Gupta, ahli strategi pasar utang dan FX Asia di Bank of America.
Sementara itu, negara-negara BRICS, termasuk Tiongkok dan India, telah aktif mengembangkan sistem pembayaran alternatif untuk menghindari ketergantungan pada sistem tradisional seperti SWIFT. Beijing juga semakin gencar mempromosikan penggunaan yuan dalam penyelesaian perdagangan bilateral.
“Dedolarisasi adalah proses yang berkelanjutan dan lambat,” tambah Kotecha dari Barclays. “Namun hal ini sudah terlihat dari cadangan bank sentral dan dari komposisi mata uang dalam transaksi perdagangan.” Ia menyebut negara-negara seperti Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Tiongkok sebagai wilayah dengan potensi repatriasi aset luar negeri paling besar.
Andy Ji, analis FX dan suku bunga Asia di ITC Markets, mencatat bahwa ekonomi yang sangat bergantung pada perdagangan akan mengalami penurunan permintaan dolar AS yang lebih signifikan. Ia menyoroti kawasan ASEAN+3 — yang mencakup Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan, selain 10 negara anggota ASEAN — di mana lebih dari 80 persen faktur perdagangan masih dalam dolar per November lalu.
Baca Juga
Hedging Meningkat
Dedolarisasi juga didorong oleh meningkatnya aktivitas lindung nilai terhadap eksposur dolar oleh investor Asia, menurut riset Nomura. Ketika investor melakukan hedging, mereka menjual dolar dan membeli mata uang lokal atau alternatif, yang kemudian meningkatkan permintaan dan memperkuat mata uang tersebut terhadap dolar.
“Beberapa mata uang yang kami lihat tampil menonjol antara lain yen Jepang, won Korea, dan dolar Taiwan,” kata Craig Chan, kepala global strategi FX di Nomura Securities. Ia mencatat bahwa aktivitas hedging cukup signifikan dilakukan oleh perusahaan asuransi jiwa, dana pensiun, dan hedge fund.
Nomura memperkirakan rasio hedging asuransi jiwa Jepang meningkat dari 44 persen menjadi sekitar 48 persen pada April dan Mei. Untuk Taiwan, rasio tersebut diperkirakan mencapai 70 persen.
Dolar Masih Tak Tergantikan
Meski dedolarisasi terus berlangsung, sebagian analis menilai bahwa fenomena ini belum tentu menjadi perubahan struktural. “Saat ini kemungkinan masih bersifat siklikal,” ujar Cedric Chehab, kepala ekonom di BMI. Ia menilai pergeseran menjadi struktural hanya akan terjadi jika AS makin agresif menggunakan sanksi, atau bila pemerintah memaksa dana pensiun berinvestasi lebih banyak di dalam negeri.
Pescole dari ING menyatakan bahwa meskipun beberapa negara mengurangi eksposur terhadap dolar, belum ada mata uang lain yang memiliki likuiditas dan kedalaman pasar obligasi dan kredit seperti dolar.
Baca Juga
Trump Ancam BRICS dengan Tarif 100% Jika Mau Gantikan Dolar AS
“Jadi ini lebih tentang berkurangnya daya tarik dolar sebagai cadangan, bukan kejatuhan posisinya sebagai mata uang utama,” ujarnya.
Peter Kinsella, kepala global strategi valas di Union Bancaire Privée, menambahkan bahwa penting untuk membedakan antara pelemahan dolar dan de-dolarisasi. “Kita pernah melihat dolar melemah di berbagai siklus, tetapi statusnya sebagai mata uang cadangan tetap bertahan,” katanya. Ia menegaskan bahwa lebih dari setengah perdagangan global masih difaktur dalam dolar hingga April 2025.
“Meski begitu, penurunan penggunaan dolar sebagai aset cadangan tampaknya akan berlanjut. Saya sangat yakin bahwa emas akan menjadi penerima manfaat utama dari tren ini,” pungkas Kinsella.

